KabarJambi.net- Untuk mencapai swasembada pangan, Gubernur Jambi Zumi Zola meminta kepada petani agar memahami soal iklim.

Hal itu dikemukakan oleh Zola dalam acara Penutupan Sekolah Lapangan Iklim (SLI) Tahap IIIbertempat di tengah hamparan 840 Ha sawah masyarakat di Desa Pasar Terusan, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batnghari, Kamis (22/9/2016) siang.

Sekolah tersebut diselenggarakan oleh BMKG melalui Stasiun Klimatologi Jambi, yakni menyesuaikan musim tanam dan musim panen para petani padi sawah dengan kondisi iklim.

Zola menyatakan, penyelenggaraan Sekolah Lapangan Iklim sangat dibutuhkan oleh para petani, yang dalam melakukan kegiatan pertaniannya sangat tergantung pada kondisi iklim, dan SLI tersebut merupakan salah satu kontribusi BMKG terhadap upaya percepatan pembangunan pertanian di Provinsi Jambi.

Zola berharap, para petani dapat semakin memahami informasi iklim BMKG, sehingga kerugian akibat dampak iklim ekstrim yang dipicu oleh perubahan iklim dapat diminimaisir. “Sekolah Lapangan Iklim sangat membantu petani untuk beradaptasi dengan alam” ujar alumni Fakultas Teknologi Pertanian Jurusan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini

Zola menjelaskan, sektor pertanian merupakan salah satu sektor penggerak utama perekonomian Provinsi Jambi, selain kontribusnya yang masih cukup besar terhadap PDRB Provinsi Jambi (lebih dari 40%), juga karena sebagian besar masyarakat masih menjadikan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian utama.

Besarnya peran sektor pertanian, kata Zola, tentunya didasarkan pada karakteristik wilayah Provinsi Jambi, yang sebagain besar sangat baik dan cocok untuk pertanian, baik pertanian lahan basah maupun pertanian lahan kering. Dan, secara kultural, masyarakat Provinsi Jambi juga termasuk masyarakat agraris.

Zola mengemukakan, dalam upaya mendukung pencapaian target swasembada komoditas kedaulatan pangan, Pemerintah Provinsi Jambi akan mendorong dan mengintensifkan kegiatan-kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas. “Untuk produktivitas tanaman pangan diharapkan dapat ditingkatkan 2 sampai 3% per tahun, sementara untuk tanaman hortikultura diharapkan dapat ditingkatkan sebesar 1,5 sampai 2% per tahun. Sebagai gambaran, produksi beras Provinsi Jambi pada tahun 2015 mencapat 561.542 ton Gabah Kering Giling (GKG), jagung sebesar 50.588 ton, dan kedelai sebesar 7.105 ton,” tutur Zola.

Beberapa tahun terakhir terjadi pemanasan global yang berimbas pada perubahan iklim yang cukup ekstrim, yang selanjutnya berpengaruh pada hampir seluruh aktivitas manusia, termasuk aktivitas pertanian, yang sangat bergantung pada alam.

“Perubahan iklim akan berdampak pada pergeseran musim, yakni semakin singkatnya musim hujan namun dengan curah hujan yang lebih besar, sehingga pola tanam juga akan mengalami pergeseran. Disamping itu, kerusakan tanaman terjadi karena intensitas curah hujan yang tinggi yang berdampak pada banjir dan tanah longsor serta angin,” ungkap Zola.

Zola mengatakan, semua pihak termasuk petani dalam melakukan aktivitas pertanian harus beradaptasi dengan alam, dan Sekolah Lapangan Iklim ini merupakan salah satu upaya untuk melakukan aktivitas pertanian yang beradaptasi dengan alam, dengan tujuan agar produktivitas pertanian baik.

“Pertanian pangan merupakan salah satu prioritas pembangunan Provinsi Jambi. Kita ingin Provinsi Jambi mandiri pangan, kita tentukan nasib kita sendiri,” ungkap Zola, sembari menghimbau masyarakat untuk tetap mempertahan sawah seluas 840 Ha di Desa Pasar Terusan.(nv)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY