KabarJambi.net – Pengamat Politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) Said Salahudin mengatakan pasangan Ahok-Djarot berpotensi terancam pada Pilkada DKI di putaran pertama.

“Hasil survei yang dirilis terakhir oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Polmark Research Center (PRC), maka sudah pasti Pilkada berlangsung dua putaran,” ujar Said Salahudin kepada Antara di Jakarta, Kamis.

Said mengungkapkan kalau membaca hasil survei PRC, misalnya, memang tidak mustahil pasangan petahana yang kelak akan duduk sebagai penonton di putaran kedua.

“Dalam surveinya PRC menyebut dari 31,9 persen responden atau pemilih Ahok-Djarot, ternyata hanya 23,2 persen saja dari mereka yang menyatakan sudah mantap akan memilih pasangan petahana,” ujar pemerhati Pilkada sejak 2007 itu.

Apabila data itu dibaca secara a contrario, maka itu artinya ada 8,7 persen pemilih petahana yang belum mantap untuk memilih pasangan tersebut alias masih mungkin pindah ke “lain hati”. “Tidak hanya itu, elektabilitas Ahok-Djarot dari kalangan pemilih konsisten juga masih bermasalah. Pada Juli 2016, pemilih yang mengaku sudah mantap memilih Ahok-Djarot tercatat 28,7 persen,” kata Direktur Eksekutif Sigma itu.

Tetapi ketika dilakukan survei kembali pada awal Oktober, jumlah pemilih konsisten petahana menyusut 5,5 persen. Hal ini menggambarkan pemilih konsisten pun ternyata masih sangat labil.

“Dengan tipe pemilih yang masih mungkin pindah ‘ke lain hati’ dan pemilih kategori labil maka tentu akan sangat berat bagi petahana jika hanya mengandalkan 23,2 persen pemilih konsisten yang tersisa untuk masuk ke putaran kedua. Apalagi yang disebut dengan pemilih konsisten pun ternyata masih bisa berubah,” kata aktivis 98 itu.

Oleh sebab itu ada kemungkinan pasangan Ahok-Djarot pada akhirnya nanti akan selesai di putaran pertama, sehingga yang akan berhadapan di putaran kedua adalah pasangan Anies-Sandi dan Agus-Sylvi. Ketentuan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 Tentang Pemerintahan Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang mensyaratkan keterpilihan pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur harus memperoleh suara lebih dari 50 persen menyebabkan Pilkada DKI Jakarta 2017 berpotensi akan berlangsung dalam dua putaran. (***)

Sumber : Antara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY