KabarJambi.net – Ketua Umum Lembaga Pengawas Haji dan Umrah (Hajj and Umrah Wacth/HUW) Mahfudz Djaelani mempertanyakan penyebab kerugian maskapai penerbangan Garuda Indonesia sebesar Rp 821,6 miliar pada semester pertama 2016.

Semestinya hal itu tidak terjadi karena selama ini Garuda monopoli penerbangan haji reguler dan khusus, termasuk hampir 500.000 WNI setiap tahunnya pergi umrah dengan menggunakan Garuda, katanya melalui siaran persnya di Jakarta, Senin (31/10/2016).

Dalam rilis yang juga tertera nama Sekretaris Umum HUW Sayyidu Ismail Sufi, disebutkan bahwa tarif Garuda lebih mahal daripada harga tiket penerbangan lain.

Misalnya, untuk biaya tiket umrah sebesar 1.200 dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini sangat tinggi dibandingkan harga tiket penerbangan lain di bawah 1.200 dolar, papar Mahfudz.

Mahfudz yang yang juga mantan anggota DPR RI dari Golkar itu mendesak agar laporan keuangan Garuda yang mengumumkan adanya kerugian agar diaudit total laporan keungannya sehingga bisa diketahui penyebab kerugian tersebut.

“Kalau memang ada penyimpangan dalam pengelolaan manajemennya yang menyebabkan kerugian, aparat penegak hukum, seperti KPK dan kepolisian, agar melakukan penyelidikan penyebab kerugian tersebut,” kata Mahfud.

Setiap musim haji, kata dia, Garuda Indonesia memberangkatkan sekitar 80.000 calon haji Indonesia ke Tanah Suci, dan ditambah sekitar 7.000 calon haji khusus (ONH Plus) yang dilayani Garuda.

Selain itu, lebih dari 500.000 WNI pergi umrah setiap tahunnya dengan menggunakan Garuda. “Dengan memberangkatkan haji dan umrah saja, Garuda sebenarnya mendapatkan keuntungan,” terang Mahfudz.

Oleh karena itu, kata Mahfudz, HUW mempertanyakan yang membuat Garuda Indonesia mencatat kerugian sebesar 63,2 juta dolar AS atau setara dengan Rp821,6 miliar.

Dengan kerugian yang diderita Garuda tersebut, menurut dia, memang sangat berat bagi perusahaan penerbangan untuk melaksanakan bisnisnya, apalagi di tengah kondisi ekonomi global yang belum bagus.

“Ditambah lagi, persaingan di dunia penerbangan sangat ketat,” papar Mahfudz.

Ironisnya, kata dia, karena penerbangan lain dari berbagai negara, seperti Ethiopian Airlines, terus meraih keuntungan dan pada saat yang sama menambah rute ke berbagai negara, termasuk akan ke Indonesia. (****)

Sumber : Antara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY