Kabarjambi.net – Bulan Safar bagi warga Air Hitam Laut, Kecamatan Sadu adalah bulan spesial dalam kehidupan mereka. Warga menganggap bulan Safar sebagai bulan penebusan dosa dan tolak bala. Mereka menggelar acara ritual adat mandi Safar, yaitu mandi bersama di laut pantai Babussalam.

Ritual mandi Safar dimulai dengan pemberian sajian makanan yang ditaruh dalam dulang oleh setiap kepala keluarga. Masing-masing dulang yang disumbangkan kepala keluarga ini harus berisikan makanan.

Prosesi mandi Safar ini adalah tradisi warisan nenek moyang yang berasal dari Bugis. Bagi warga, mandi Safar ini merupakan ritual untuk meminta kepada Sang Kuasa agar terhindar dari bahaya, penyakit dan mensucikan diri dari dosa dengan menceburkan diri ke laut.

Safar adalah salah satu nama bulan dari dua belas bulan dalam kalender Islam atau tahun Hijriyah. Safar berada diurutan kedua sesudah bulan Muharam. Menurut bahasa Safar berarti kosong, ada pula yang mengartikannya kuning. Sebab dinamakan Safar, karena kebiasaan orang-orang Arab zaman dulu meninggalkan tempat kediaman atau rumah mereka (sehingga kosong) untuk berperang ataupun bepergian jauh.

Ada pula yang menyatakan bahwa nama Safar diambil dari nama suatu jenis penyakit sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Arab jahiliyah pada masa dulu, yakni penyakit safar yang bersarang di dalam perut, akibat dari adanya sejenis ulat besar yang sangat berbahaya. Itulah sebabnya mereka menganggap bulan Safar sebagai bulan yang penuh dengan kejelekan. Pendapat lain menyatakan bahwa Safar adalah sejenis angin berhawa panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit.

Mengutip sebuah buku catatan tentang budaya tersebut,

Ia menuturkan, atraksi tersebut dilaksanakan pada hari Arba Musta’mir atau hari Rabu terakhir dalam bulan Safar (bulan kedua dalam Kalender Hijriah).Masyarakat yang akan mengikuti prosesi Mandi Safar, sebelum menceburkan diri ke dalam air laut, telah membekali diri dengan daun Sawang yang diikat di kepala atau di pinggang. Daun Sawang tersebut sebelumnya dirajah oleh sesepuh atau alim ulama setempat. Menurut kepercayaan, pemakaian Daun Sawang itu agar orang yang mandi terjaga keselamatannya dari segala gangguan baik dari gangguan binatang maupun makhluk halus.

Kegiatan Mandi Safar merupakan satu di antara atraksi budaya bernuansa agama yang akan terus dipromosikan guna menambah perbendaharaan objek wisata di kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Desa Air Hitam Laut merupakan Desa yang memiliki potensi yang besar berkaitan dengan objek dan daya tarik wisatanya, selain memiliki event terprogram setiap tahunnya lewat kegiatan mandi Safar, Desa Air Hitam Laut juga merupakan salah satu pintu masuk kawasan taman Nasional Berbak yang memiliki potensi ekowisata dengan berbagai jenis flora dan fauna.

Selain itu, Desa Air Hitam laut sangat dekat dengan pantai cemara yang memiliki pantai pasir putih dengan hutan cemara laut yang spesifik. memiliki panjang sekitar 20 km, lebar 20 meter hingga 30 meter dengan kedalaman kurang dari lima meter. Saat ombak tenang, pantai atau laut di pulau itu sangat cocok untuk sarana olahraga pantai seperti selancar serta sarana pemancingan.

Sebuah pesona budaya yang menjadi corak keragaman budi pekerti budaya timur yang patut dilestarikan, sebagai bentuk pelestarian akan warisan budaya lokal yang memberi peluang kunjungan wisata komitmen pemerintah kabupaten Tanjung jabung timur  ditiap tahunnya mengelar ritual khas ini…

Tahun ini jatuh pada tanggal 30 november 2016,  Dipusatkan dipantai babusalam air hitam laut, Tanjung Jabung Timur Festival Mandi Safar  2016 di selenggarakan, prosesi ritual budaya ini berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai,

Pemerintah Kabupaten Tanjungjabung Timur berharap  event tahunan ini dapat menjadi magnet bagi wisatawan lokal dan mancanegara, so jadi lah bagian dari meriahnya “Ritual Budaya Festival Mandi Safar  2016” yang akan menjadi agenda wisata pilihan jelang akhir tahun yang tak terlupakan.(***)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY