KabarJambi.net – Ribuan muslim di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Sabtu, semarakan pawai ta’aruf menyambut Tahun Baru 1 Muharram 1438 Hijriyah.

Pawai ta’aruf yang melibatkan warga, mahasiswa, pelajar, anggota TNI, Polri, guru serta pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintah Kabupaten Manokwari dilaksanakan dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer (km) dari Lapangan Borarsi Manokwari hingga halaman Masjid Ridwanul Bahri Fasharkan TNI Angkatan Laut.

“Seharusnya kegiatan ini kami laksanakan besok hari Ahad pas tanggal 1 Muharram. Kita menghormati umat Nasrani yang melaksanakan ibadah sehingga perayaan Muharram kita ajukan hari Sabtu agar tidak mengganggu,” kata Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Manokwari Abdurahim di sela-sela kegiatan.

Dia menilai, kegiatan ini penting untuk melaksanakan syi’ar Islam di Manokwari. Meskipun demikian, harus mempertimbangkan kondisi dan keberadaan pemeluk agama lain di daerah tersebut.

Ia bersyukur karena seluruh pemeluk agama di daerah masuknya injil pertama di tanah Papua itu dapat berdampingan dengan damai dengan saling menjaga dan menghormati.

“Islam ada di Manokwari, itu salah satu tujuan dari kegiatan tersebut. Di sisi lain, kita pun harus paham bahwa pemeluk agama lain juga ada di sini,” katanya.

Abdurrahman berharap melalui kegiatan tersebut semua pihak bisa lebih mengenal Islam yang merupakan agama damai, toleran serta bisa berdampingan secara harmonis dengan pemeluk agama lain.

Dia menjelaskan, selain pawai ta’aruf Tahun Baru Hijriyah di Manokwari pun diisi dengan kegiatan lain, yakni tablig akbar dan donor darah. Kegiatan donor dilaksanakan dengan menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) Papua Barat.

“Untuk donor darah kami tidak bisa laksanakan hari ini karena kita baru selesai berjalan sejauh 5 km. Bagi jamaah yang berminat untuk donor, bisa langsung mendaftarkan nama, nanti petugas PMI akan menghubungi,” katanya.

Dia menambahkan, tahun baru penting untuk diperingati agar umat muslim senantiasa mengingat perjuangan Nabi Muhammad.

“Umat kita sering lupa dengan tahun baru Hijriyah. Padahal tahun Hijriyah ini sangat berkaitan erat dengan syariat. Orang lebih mudah untuk mengingat dan merayakan tahun baru Masehi,” katanya. (***)

Sumber : Antara

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY