“We’re a big company, millions of moving parts. We all work very hard to ensure those moving parts are functioned as a means to earn a profitable win for all of us”.

Kata-kata itu diucapkan oleh Donald Vidrine (diperankan oleh John Malkovich), pejabat teras British Petroleum (perusahaan migas multinasional asal Inggris), yang bertanggung jawab di kilang migas lepas pantai bernama Deepwater Horizon, di kawasan Teluk Meksiko, Amerika Serikat.

Sebagaimana diketahui, dalam sebuah eksplorasi migas, kerap kali perusahaan induk (seperti BP), memberikan pekerjaan eksplorasi tersebut dengan cara subkontraktor, atau memberikan kepada pihak lain untuk bekerja atas nama perusahaan induk.

Deepwater Horizon adalah pengeboran kilang minyak yang dikelola perusahaan Transocean yang dipimpin oleh Jimmy Harrell (Kurt Russell), dengan tangan kanan Mike Williams (Mark Wahlberg), teknisi yang mengetahui berbagai pernak-pernik tentang Deepwater Horizon.

Dari bagian awal, penonton telah ditampilkan dengan gambaran bahwa terdapat sejumlah kerusakan dalam sejumlah permesinan di Deepwater Horizon, yang tidak diperbaiki oleh pihak BP yang memilih penghematan anggaran, mengingat jadwal eksplorasi yang sudah sangat tertinggal.

Karena sudah terlambat dari target yang ditetapkan, maka Donald Vidrine juga menginginkan pengeboran ke dasar laut harus sudah dapat dilaksanakan dengan segera.

Namun, Jimmy Harrell awalnya menolaknya karena pengujian keselamatan pipa pengeboran belum dilakukan dengan seksama oleh BP, terutama terkait dengan dinding semen yang melapisi dan melindungi pipa pengebor.

Setelah melalui perdebatan antara Donald dan Jimmy, akhirnya diputuskan untuk melakukan pengujian dalam rangka mengetes ketahanan yang terhadap kondisi pipa pengeboran di Deepwater Horizon.

Hasil tes tidak menunjukkan tingkat keselamatan yang ideal, tetapi Donald berteori bahwa hal tersebut adalah karena kesalahan sensor pembaca yang terdapat dalam alat tes tersebut.

Jimmy, yang tidak ingin berdebat, terutama setelah Jason Anderson (Ethan Suplee), operator utama di lantai pengeboran, ditekan terus-menerus oleh Donald, akhirnya memberikan lampu hijau.

Setelah beberapa lama pengeboran dilakukan, mulai muncul berbagai kondisi yang mencemaskan seperti lumpur yang keluar meluap dari pipa pengeboran utama.

Kemudian, tekanan yang diterima oleh pipa pengeboran ternyata semakin meningkat dan terjadilah ledakan yang mengakibatkan minyak keluar dari pipa pengeboran dan terus menghantam ruang operator dan orang-orang yang berada di dalamnya.

Tidak berhenti sampai di sana, minyak yang muncrat tak terkendali dari dalam lautan juga mengeluarkan sejumlah gas yang berbahaya seperti metana, dan dalam jumlah yang sangat besar, gas tersebut dapat meledak.

Setelah kehebohan minyak yang mengucur deras di berbagai ruangan dalam kilang, ditambah dengan unsur gas yang akhirnya melewati batas yang dapat ditoleransi dan akhirnya meledak, maka Deepwater Horizon menjadi seperti “neraka kecil”.

Para pekerja yang berada di dalamnya berusaha untuk menyelamatkan diri dari kobaran api yang meluluhlantakkan kilang minyak itu.

Sutradara Peter Berg (yang sebelumnya bekerja sama juga dengan Mark Wahlberg dalam film “Lone Survivor”) berhasil menampilkan adegan-adegan memacu adrenalin yang menampilkan horor dari bencana tersebut.

Baik adegan tekanan minyak yang bocor dari pipa pengeboran hingga ledakan yang menimbulkan api yang membakar keseluruhan kilang ditampilkan dengan penyuntingan yang apik dan tidak berlebihan.

Dalam film berdurasi 107 menit itu, aktor-aktor kawakan berhasil menampilkan akting yang baik, seperti Kurt Russel sebagai pemilik pengeboran yang tegas, dan John Malkovich sebagai petinggi BP yang menyebalkan.

Bencana terbesar Ledakan “Deepwater Horizon” yang terjadi pada 20 April 2010 terletak sekitar 60 kilometer dari lepas pantai negara bagian Lousiana, AS. Ledakan itu juga mengakibatkan tumpahnya minyak bumi ke laut, yang disebut harian New York Times sebagai bencana tumpahan minyak terbesar yang pernah terjadi di Amerika.

Pada saat peristiwa tragis itu terjadi, berdasarkan catatan resmi dilaporkan terdapat hingga 126 orang di atas kilang minyak itu. Dari jumlah tersebut, 11 pekerja meninggal dunia dan 17 orang lainnya mengalami luka-luka.

Kesebelas korban tersebut diperkirakan adalah mereka yang berada di dekat lokasi awal terjadinya kebakaran dan karenanya tidak bisa menghindari dari ledakan yang terjadi dengan seketika tersebut.

Film “Deepwater Horizon” memperingatkan penonton apa yang terjadi bila pihak perusahaan hanya mengutamakan penghematan anggaran dan mengejar target tetapi mengabaikan keselamatan.

Dengan alasan tertinggal dari jadwal, maka pejabat dari perusahaan multinasional migas itu memaksakan kehendak untuk melakukan aktivitas pengeboran minyak dengan segera.

Hal itu juga bisa menjadi masukan bagi pemerintah Republik Indonesia yang saat ini juga sedang meningkatkan basis data informasi eksplorasi migas sebagai upaya mendorong produksi migas nasional.

Memang penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam seperti migas, tetapi penting pula untuk melakukan kegiatan eksplorasi dengan seksama dan memperhatikan aspek keselamatannya. (***)

Sumber : Antara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY