Kabarjambi.net – Politisi loncat parpol bukan lagi fenomena baru. Di Provinsi Jambi hal ini bahkan terbilang sangat sering terjadi. Dengan berbagai alasan, sejumlah politisi ternama berpindah dari satu ke lain parpol.

Catatan kabarjambi.net, setidaknya ada belasan nama besar yang memilih pidah parpol. Berikut catatannya:

1. H Hasan Basri Agus (HBA). Beliau adalah mantan Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Jambi. Namun sebelumnya ia cukup lama bernaung di bawah beringin rindang atau Golkar. Sebelum menjabat Gubernur Jambi, HBA adalah Ketua Dewan Pembina DPD II Partai Golkar Kabupaten Sarolangun.

Belakangan HBA memutuskan mengundurkan diri dari dunia politik. Meski banyak isu yang mengabarkan bakal kembalinya HBA  ke panggung politik. Namun di acara halal bi halal keluarga besar PMII se-Provinsi Jambi di HBA Institute, Telanaipura Jambi, HBA mengatakan tidak berniat untuk berpolitik lagi.

“Banyak orang bertanya, apa kerjanya HBA sekarang. Saya kembali ke basic saya. Sebagai anak pondok (santri), saya kembali nyantri. Ngaji ke mesjid-mesjid hampir setiap malam. Itu membuat saya bahagia. Urusan saya dengan politik sudah selesai,” sebutnya.

2. Burhanuddin Mahir. Sebelum menjadi Bupati Muaro Jambi, Burhanuddin Mahir ternyata juga politisi Partai Golkar. Bahkan dari perahu Golkar, ia mendudukan kursi Ketua DPRD Kabuaten Batanghari.

Hanya saja, saat maju di Pilkada Muaro Jambi, ia diusung oleh Parai Amanat Nasional (PAN). Paska terpilih sebagai Bupati Muaro Jambi, Cik Bur pun menjadi Ketua DPD PAN Muaro Jambi.

Namun pada periode keduanya menjadi Bupati Muaro Jambi, Cik Bur kembali membuat langkah politik baru. Yakni menjadi kader Partai Demokrat. Bahkan menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Muaro Jambi.

Lewat Partai Demokrat, Cik Bur membawa gerbong cukup besar. Istri dan adiknya juga sukses melangkah ke kursi DPRD. Belakangan langkah politik Cik Bur terus naik kelas. Saat ini ia menjabat Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Jambi, menggantikan HBA.

3. H Fachrori Umar. Tokoh basal Kabupaten Bungo ini dua kali terpilih sebagai Wakil Gubernur Jambi. Mendampingi HBA dan kemudian menjadi wakil Zumi Zola. Seperti HBA dan Cik Bur, Fachrori sebelumnya merupakan kader Partai Golkar. Hanya saja pada pilgub 2015 ia beralih perahu menjadi kader Partai Nasional Demokrat (NasDem).

4. Cek Endra. Langkah politik Bupati Sarolangun dua periode ini juga cukup berliku. Menjadi Wakil Bupati Sarolangun mendampingi HBA, ia melangkah dari perahu PAN. Bahkan saat itu CE menjabat Wakil Ketua DPW PAN.

Namun belakangan pengusaha ternama ini menyeberang menjadi kader Partai Golkar. Cek Endra bahkan menjadi Wakil Ketua DPD I Partai Golkar Provinsi Jambi versi Agung Laksono ketika Golkar masih kisruh. Kabar terkahir, CE disebut masuk menjadi warga PAN.

5. Nalim. Saat maju sebacai Calon Bupati Merangin pada 2008 lalu, Nalim bertolak dari PAN. Ia disebut menjadi kandidat kesayangan Zulkifli Nurdin yang saat itu masih menjadi Gubernur Jambi. Nalim juga kemudian resmi menjadi kader partai matahari terbit.

Belakangan, ketika HBA terpilih sebagai Gubernur Jambi dan menjadi Ketua DPD Partai Demokrat, Nalim pun mengikuti jejak HBA. Bergabung partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono. Nalim kemudian terpilih menjadi Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Merangin.

Namun kiprah Nalim di Demokrat tak begitu lama. Saat maju lagi sebagai calon Bupati Merangin pada pilkada 2013 lalu, ia masih diusung Partai Demokrat. Namun paska kalah pilkada Nalim mundur dari posisi Ketua DPC Partai Demokrat Merangin dan digantikan Ir Teuku Syafria Mirza.

Belakangan ini Nalim kembali bergabung dengan PAN ketika Zumi Zola menjadi nakhoda partai. Nalim juga merupakan kandidat calon Bupati Merangin yang paling berpeluang untuk diusung oleh PAN pada pilkada seretan 27 Juni 2018 nanti.

6. Usman Ermulan. Sebelum menjadi Bupati Tanjab Barat, Usman merupakan anggota DPR RI dari Golkar. Usman juga pernah bergabung di PDK. Saat menjabat menjadi Bupati Tanjab Barat di periode kedua, istrinya mencalonkan diri menjadi caleg DPR RI dari Gerindra. Sejak dua hari lalu, Usman menyatakan bergabung sebagai kader PKS.

7. Masnah Busro. Pada pemilu 2009, Masnah merupakan kader PAN. Kemudian pemilu 2014 masuk Golkar dan terpilih sebagai Anggota DPRD Muaro Jambi dari Golkar. Saat maju sebagai calon bupati di Muaro Jambi, Masnah keluar dari Golkar karena tak diusung partai ini. Terakhir dikabarkan dukungan dari PKB berkompensasi ia harus masuk sebagai kader PKB. Namun, sepertinya Masnah memilih PAN.

8 H M Madel. Pada pemilu 2009, Madel gabung di PDK. Namun pada 2014 mencalonkan diri menjadi caleg DPRD melalui perahu Nasdem dan gagal terpilih. Terakhir menjadi Ketua DPD Golkar Sarolangun. Namun kemudian ia memilih mundur karena tak diusung oleh partai ini. Hingga saat ini belum diketahui arah politik mantan Bupati Sarolangun ini.

9. Ami Taher. Pada Pemilu 2004, Ami menjadi aggota DPR RI dari PKS. Namun keluar dari partai saat pilkada Kerinci. Ia pun mencalonkan diri menjadi Caleg DPR RI dari PPP pada tahun 2014 lalu namun belum beruntung.

10. Abdul Fattah. Saat menjabat sebagai Bupati Batanghari periode pertama, Fattah juga menjabat sebagai Ketua Golkar Batanghari. Ia lalu meninggalkan Golkar dan bergabung ke Partai Demokrat.

Bahkan, istrinya Hj Sofia Fattah, mencalonkan diri sebgai anggota DPRD Provinsi Jambi dan terpilih. Saat Sofia Fattah mencalonkan diri menjadi cawabup, ia tak diusung Demokrat. Putranya Havis menjadi ketua Golkar Batanghari yang saat itu ada dualisme. Kini Havis memilih bergabung ke PAN.

11. Elviana. Pada Pemilu 2004, Elviana merupakan anggota DPR RI dari PDI Perjuangan. Setelah itu, Elviana keluar dan maju sebagai DPD RI hingga terpilih. Setelah tak lagi menjabat DPD RI, Elviana kemudian berlabuh ke PPP dan menjadi anggota DPR RI.

12. Agus Suyandi Roni. Sebelum menjadi Ketua DPW NasDem Provinsi Jambi, Agus Roni merupakan politisi PDI dengan jabatan terakhri sebagai Sekretaris DPD PDI Perjuangan.(Syamsul)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY