KabarJambi.net – Lanskap industri media secara umum telah berkembang sangat sekali seiring dengan perkembangan teknologi digital di Indonesia. Perkembangan ini berdampak signifikan terhadap aspek ketenagakerjaan.

“Soal ketenagakerjaan akibat dari perubahan lanskap industri media ini menjadi salah satu tantangan berat bagi serikat pekerja media di Indonesia,” kata Sasmito, ketua Federasi Serikat Pekerja Media (FSPM) Independen, di Jakarta, Senin 31 Oktober 2016.

Sasmito dan Wayan Agus Purnomo terpilih sebagai ketua umum dan sekretaris umum FSPM Independen dalam kongres di Jakarta, Sabtu, 29 Oktober 2016 lalu. Sasmito adalah jurnalis Jurnalis KBR 68H, Wayan Agus adalah jurnalis Majalah Tempo. Pasangan ini menggantikan Abdul Manan dan Sasmito, ketua umum dan sekretaris umum FSPM Independen periode 2013-2016.

Menurut Sasmito, ada sejumlah perubahan penting yang terjadi dalam industri media dalam beberapa tahun ini. Salah satunya adalah perubahan iklim kerja pekerja media akibat dari konvergensi yang dilakukan sejumlah media. Konvergensi dalam ruang pemberitaan mendorong adanya “perampingan” karena ada pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan sejumlah orang, kini bisa ditangani dengan sumber daya manusia yang lebih sedikit.

Konvergensi, kata Sasmito, juga melahirkan tuntutan penambahan skill pekerja media. Dengan konvergensi dalam newsroom, maka seorang jurnalis, misalnya, kini juga dituntut untuk menguasai keterampilan agar memenuhi kebutuhan berbagai platform. Di perusahaan yang newsroom-nya terintegrasi, seorang jurnalis tak hanya dituntut bisa menulis untuk media cetak atau online, tapi juga diharapkan bisa mengambil foto, memproduksi berita untuk radio, televisi dan semacamnya.

Perkembangan baru semacam ini, kata Sasmito, tentu saja berdampak besar pada pekerja media. Hanya saja, kata dia, perubahan cara kerja ini belum berdampak pada kesejahteraan pekerja media. Sasmito mengutip hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Aliansi Jurnalis Independen pada tahun 2012 lalu. Dalam penelitian terhadap empat perusahaan media besar itu ditemukan bahwa tak semua media itu melakukan konvergensi.

“Hasilnya, ritme kerja jurnalis yang media menerapkan konvergensi memang beriubah, tapi tidak dengan kesejahteraannya,” kata dia.

Perubahan lain dari tren digitalisasi ini adalah mulai meredupnya media konvensional. Ini ditandai dengan turunnya oplah dan iklan, misalnya media cetak. Perkembangan inilah yang dianggap memberi kontribusi dari tutupnya sejumlah media cetak, atau beralihnya media cetak ke edisi digital, pada tahun 2015 lalu.

“Perkembangan kurang menggembirakan pada tahun lalu ini memang bukan hanya karena tren digitalisasi, tapi juga karena krisis ekonomi,” kata Sasmito.

Perkembangan lain dari trend kemajuan teknologi yang jugsa bisa berdampak pada aspek ketenagakerjaan di sektor media adalah pemanfaatan robot untuk menulis berita. Perkembangan ini sudah terjadi di Amerika Serikat.

“Tren di Amerika Serikat ini bukan tidak mungkin akan terjadi di Indonesia, di mana tenaga jurnalis akan digantikan oleh robot,” kata Sasmito.

Sejumlah perkembangan baru ini memang akan menjadi sejumlah tantangan yang tak terhindarkan bagi media, termasuk para aktivis serikat pekerja media di Indonesia. Menurut Sasmito, soal itu menjadi tantangan besar karena kondisi serikat pekerja media di Indonesia yang masih belum bisa dikatakan cukup bagus kondisinya. “Selain jumlahnya masih sedikit, kondisinya juga masih kurang menggembirakan karena masih banyak yang bergelut dengan sejumlah problem internal,” kata Sasmito.

Menurut data FSPMI, jumlah serikat pekerja media di Indonesia kurang dari 30. Jumlah ini sangat kontras dengan jumlah media yang mendurut data Dewan Pers sekitar 2.300 perusahaan media. Pertumbuhan jumlah serikat pekerja media juga kurang menggembirakan. Sejak tahun 2015, baru ada dua serikat pekerja baru di sektor media yang lahir: Serikat Karyawan iNews Bersatu, Jakarta; dan Serikat Pekerja Lintas Media, Surabaya.

FSPMI adalah federasi yang menaungi tujuh serikat pekerja media di seluruh Indonesia. Federasi yang  berdiri pada tahun 2009 ini beranggotakan delapan serikat pekerja di seluruh Indonesia. Masing-masing: Dewan Karyawan Tempo, Jakarta; Serikat Pekerja KBR 68H, Jakarta; Forum Karyawan SWA, Jakarta; Dewan Karyawan Pikiran Rakyat, Bandung; Ikatan Karyawan Solo Pos, Solo; Serikat Pekerja Koresponden Tempo, Surabaya; Serikat Pekerja Pontianak Post, Pontianak; dan Serikat Pekerja Lintas Media, Surabaya. (mu)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY