KabarJambi.net – Perekonomian Provinsi Jambi pada triwulan II 2016 tumbuh sebesar 3,57 persen (yoy) atau meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 3,34 persen.

Namun angka itu lebih rendah bila dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,18 persen (yoy), maupun pertumbuhan Jambi pada triwulan II 2015 yang mencapai 4,33 persen, kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi Meily Ika Permata, di Jambi, Rabu (5/10/2016).

Meily menjelaskan, total PDRB Jambi triwulan II 2016 mencapai Rp42,2 trilun atau 1,37 persen dari PDB Nasional. Angka itu juga meningkat dibandingkan posisi yang sama pada 2015 sebesar Rp 38,5 triliun.

Dia mengatakan struktur perekonomian Provinsi Jambi pada triwulan II 2016 masih didominasi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 29,7 persen dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 17,5 persen.

Kemudian sektor perdagangan besar, eceran dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 12,0 persen dan industri pengolahan sebesar 10,6 persen.

“Keempat sektor ekonomi ini berkontribusi sebesar 69,7 persen dari total PDRB Provinsi Jambi,” katanya menjelaskan.

Sedangkan pertumbuhan sektoral dari sisi lapangan kerja yakni pertumbuhan sektor pertambangan, penggalian, industri pengolahan, konstruksi, jasa perusahaan, administrasi pemerintahan, jasa pendidikan dan jasa kesehatan pada triwulan II mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Sementara sektor perdagangan besar, eceran, serta transportasi dan pergudangan masih mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi seiring momen liburan sekolah dan hari besar keagamaan pada triwulan II.

Selanjutnya dari sisi pengeluaran, konsumsi dan investasi masih tumbuh. Namun terjadi kontraksi pembentukan modal tetap domestik bruto dibandingkan triwulan pertama 2016. Yang mana investasi terus mengalami kontraksi sejak triwulan III 2014.

“Penurunan investasi ini utamanya disebabkan perlambatan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat perusahaan/korporasi menunda atau membatalkan investasi barang-barang modal seperti alat/mesin produksi,” kata Meily menambahkan. (***)

Sumber : Antara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY