KabarJambi.net – Kalangan perbankan di Sumatera Selatan masih menghindari sektor perkebunan karet untuk penyaluran kredit, karena harga komoditas unggulan daerah ini masih tertahan rendah kisaran Rp 6.000/kilogram.

Direktur Utama PT Bank Sumsel Babel M Adil di Palembang, Minggu, mengatakan, Bank Pembangunan Daerah Bank Sumsel Babel selektif dalam menyalurkan kredit di sektor perkebunan karet untuk menjaga kesehatan arus dana dalam rangka mencegah kredit macet.

“Dampaknya, Bank Sumsel Babel sementara ini fokus pada penyaluran kredit konsumer yang cenderung tidak terpengaruh pada pelemahan ekonomi dalam negeri,” kata Adil.

Sementara Pimpinan Wilayah Sumatera Bagian Selatan Bank Central Asia Darmawan mengatakan langkah serupa juga diambil perusahaannya mengingat kemampuan untuk membayar kalangan petani karet tengah diragukan.

“Resiko masih terlalu tinggi, apalagi saat ini harga karet berada dititik terendah, malahan ada yang anjlok hingga Rp4.000/kilogram. Namun, di satu sisi memang terjadi penurunan permintaan kredit sektor perkebunan karena dari petaninya sendiri tidak ingin meremajakan lahan,” kata Darmawan.

Untuk itu, BCA untuk wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, dan Bengkulu) bertumpu pada sektor perdagangan karena tetap tumbuh mengingat berkaitan dengan konsumsi masyarakat.

BCA pun berani mematok target realisasi kredit hingga 18-20 persen pada tahun ini atau meningkat dari capaian tahun lalu yang terealisasi diatas 10 persen.

“Di tengah kondisi ini, perbankan tidak boleh menyerah tapi justru terlecut untuk menemukan strategi baru untuk tetap menjaga kinerja, dan sektor perdagangan ini cukup menjanjikan karena sebenarnya konsumsi dalam negeri Indonesia terbilang tinggi,” kata dia.

Berdasarkan kajian ekonomi Bank Indonesia memperkirakan harga komoditas meliputi batu bara, karet alam dan logam masih rendah hingga akhir tahun 2016 karena pemulihan ekonomi global cenderung melambat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Sumatera Bagian Selatan Hamid Ponco Wibowo mengatakan, harga komoditas pada tahun ini diperkirakan bakal lebih rendah dibandingkan 2015.

“Harga batu bara terus tertekan karena berkurangnya konsumsi Tiongkok, begitu pula dengan harga karet alam diperkirakan juga terus tergerus seiring dengan turunnya harga minyak dunia,” kata dia.

Kondisi ini juga berpengaruh pada komoditas lain dari jenis logam yakni tembaga, nikel, timah, dan almunium karena disebabkan menurunnya aktifitas ekonomi di Tiongkok.(***)

Sumber : Antara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY