KabarJambi.net – Bayi dan balita menangis itu adalah makanan sehari-hari kehidupan orang tua. Jatuh nangis, kesal nangis, tidak nyaman nangis, dll. Untuk tangisan bayi baru lahir dan bayi bawah 1 tahun, nangis adalah bahasanya untuk menyatakan apa yang ia butuhkan dan untuk tangisan ini orang tua harus segera memberi apa yang ia butuhkan. Setelah kebutuhannya terpenuhi, bayi-bayi ini otomatis berhenti menangis. Contohnya minta menyusu, ngantuk, popok basah, pup, dll.

Jika yang menangis adalah toddler (balita) apalagi yang sudah mampu mengkomunikasikan keinginannya lewat verbal (sudah bisa bicara yang dimengerti) atau non verbal (misal menunjuk yang diinginkan) maka TANGIS TAK SELALU HARUS SEGERA DIHENTIKAN. Jika ia menangis karena kebutuhan maka segera penuhi (misal nangis karena sakit terjatuh, nangis karena lapar, haus, minta diambilkan sesuatu, dsb). Dan AJARI untuk berkomunikasi jelas lewat kata-kata atau menunjuk yang diinginkan, karena kalau cuma nangis mama/papa tidak mengerti apa maksudnya.

Jika menangis karena KESAL/FRUSTASI contohnya nangis karena orang tua tidak memberi apa yang diinginkan, orang tua melarang/meluruskan perbuatan yang salah, maka TANGIS TAK HARUS SEGERA DISTOP.

Seringkali karena orang tua pusing mendengar tangisan anak atau orang tua dalam tekanan pihak lain, kita melakukan hal2 instan yang memang dengan cepat menghentikan tangisan anak tetapi berdampak buruk ke depan.

1. Mengalihkan perhatian

Balita A menangis karena orang tua menasihatinya untuk tidak memukul adik, ia meraung-raung kesal dan berguling2 di lantai, orang tua yang tak tahan akan berkata “Kak, lihat tu ada burung diluar (kalau tidak ada berarti orang tua BOHONG)”. Atau “Kak, lihat nih lucu gambarnya” dan kalimat2 lain yang tidak berhubungan dengan penyebab ia menangis. Jurus ini cukup ampuh membuat anak berhenti menangis, tetapi kita akan kehilangan momen penting dalam memberi pendidikan. Anak akan lupa sebab dia menangis, dan berpotensi menangis karena hal2 yang sama di lain hari. Dia tidak belajar apa pun dari peristiwa dia menangis.

2. Menyuap dengan sesuatu yang disenangi anak atau Memberi apa yang sebelumnya dilarang.

Ini lebih BURUK dari cara pertama. Jika cara pertama hanya membuat anak kehilangan momen pembelajaran. Cara kedua ini membuat anak dapat menyetir orang tua sesuai keinginannya. Orang tua dapat kehilangan wibawanya didepan anak karena ketidakkonsistenannya. Contoh: Balita B menangis karena ia minta permen tambahan, padahal dia menghabiskan jatah permennya hari itu. Karena tak tahan dengan tangisannya yang keras, ibunya memberinya permen agar ia berhenti menangis. Ya, balita itu segera berhenti menangis, tetapi dia akhirnya tahu orang tua akan menurutinya jika ia menangis. Maka, dia dengan mudah menodong orangtuanya dengan senjata tangisannya.

Lalu baiknya bagaimana?

1. Jaga kewarasan kita.
Sangat NORMAL anak2 menangis. Dan menangis tidak akan membuatnya mati (kecuali dia ada penyakit jantung paru yang sangat berat sehingga sesak jika menangis). Apalagi jika yang menangis adalah TODDLER. Jika bayi atau newborn yang menangis baru cepat tanggap karena ia tidak mampu berkomunikasi selain tangis.

2. Pilah, apa penyebab tangisnya?
Jika kebutuhan, maka berikan. Jika KEINGINAN, apakah keinginannya bermanfaat untuk dirinya? Jika ya, boleh kita berikan dan ajarkan cara yang baik dalam mengungkapkannya. Jika KEINGINAN yang tidak baik untuk dirinya atau rasa KESAL/FRUSTASI karena dinasehati atau dilarang dari perbuatan salah maka TIDAK Usah terburu-buru mendiamkannya.

3. Sabar mendampingi anak yang menangis. Pastikan ia aman di sesi menangisnya (maksudnya jangan ada benda2 yang dapat digunakan untuk menyakiti diri sendiri). Katakan “Ibu sayang adek. Adek boleh nangis, tapi ibu ga akan kasih permintaan adek karena itu ga baik.”Tak usah dulu beri ceramah panjang karena biasanya ga akan masuk saat kondisi anak sedang nangis/ngamuk.

4. Jika sudah tenang atau mulai mereda nangisnya tawarkan perdamaian.
“Adek sudah nangisnya? Mau minum? Mau gendong?”. Beberapa balita akan nyaman digendong beberapa saat setelah menangis. Setelahnya dia akan ceria kembali seperti biasa.

5. Adakan sesi evaluasi saat anak dalam kondisi santai, misal saat menjelang tidur.
Sampaikan nasihat panjang yang tak bisa kita sampaikan saat kondisi nangis tadi. Mengapa kita tidak bolehkan/menunda suatu hal, dll. Pakai bahasa yang tidak menghamiki atau menyalahkan karena tidak ada orang bahkan anak2 pun yang suka disalah2kan.

Waw, lama ya? Yap. Dibanding dengan mengalihkan atau menyuap, bersabar dengan tangisan akan butuh waktu lebih lama. Tetapi anak akan belajar bahwa orang tua mereka adalah orang tua yang konsisten. Mereka juga belajar bahwa di dunia ini tidak semua keinginan akan terpenuhi. Ke depannya, mereka tidak akan sering menangis untuk hal-hal yang tidak dibolehkan karena mereka tau tangis tidak akan membuat keinginannya terkabul.

Bagaimana jika ORANG RUMAH(NENEK, KAKEK, dll) atau TETANGGA tak tahan dengan suara tangis?

1. Jika numpang ortu, SEGERA USAHAKAN ISTANA SENDIRI (walau ngontrak). Rumah sendiri walau gubuk lebih baik daripada rumah mewah tapi punya ortu. Disitu kita menguji kemandirian dan mendidik generasi tangguh tanpa kontaminasi pihak yang tidak sesuai dengan value kita.

2. Jika rumah tetangga terlalu mepet, mungkin salah satu kamar bisa dipasang peredam suara yah jadi kalau anak nangis disitu suaranya ga kemana2. Ruang khusus nangis yang kedap suara dan aman dari benda berbahaya.

3. Dan tetap kuat untuk bermuka tembok dan tebal kuping. Pura2 ga tau aja kalau kita dicap orangtua yang ga bisa ngasuh (karena paradigma kolot bahwa pengasuhan yang baik adalah yang minim tangis) atau orang tua tegaan. Wkwkw……Sekian.(dr. Dwi Noviyanti, Alumnus FK UNPAD “emak yang berusaha waras menghadapi tangisan krucils”)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY