Ahmad Fauzi Ansori (Bang Ojie) bersama Mustapa, saat melakukan panen madu di Kampung 6, Margoyoso, Merangin, Minggu (1/10)

KABARJAMBI.NET – 27 tahun lalu, Mustapa sudah bergumul dengan lebah. Ketika itu ia masih remaja. Tidak tanggung-tanggung, ia mesti berguru hingga ke Kuok, Provinsi Riau, untuk belajar membudidayakan lebah madu.

Bersama beberapa orang lainnya, ia berangkat ke Kuok. Dibimbing oleh Ahmad Fauzi Ansori, Mustapa dan beberapa orang lainnya bertolak ke Kuok, Kecamatan Bangkinang Barat, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Di Kuok, mereka tak sekedar belajar membudidayakan lebah madu. Sepulang dari Kuok mereka juga membawa indukan atau bibit lebah madu untuk dikembangkan di Kampung 6, Sumber Agung, Margoyoso, Merangin.

“Waktu itu kadesnya almarhum Pak Samijan. Sekitar tahun 1990, 27 tahun lalu ya. Kami dibawa Bang Ojie (Ahmad Fauzi Ansori) ke Kuok. Beliau langsung membina dan melatih kami di sana,” ujar Mustapa, Minggu (1/10).

Sepulang dari Kuok, Mustapa yang saat itu belum menikah, fokus mengembangkan lebah madu. Kini ia sudah memiliki 70 sarang berupa kotak kayu. Dimana jika pada musim kembang atau musim bunga, Mustapa bisa melakukan panen setiap tiga minggu sekali.

“Tiga minggu sekali bisa panen, kalau musim kembang. Satu kotak atau sarang, bisa dapat sampai 1 kg madu murni. Ini masker (baju khusus untuk panen madu lebah) masih yang 27 tahu lalu. Dibelikan Bang Ojie. Sampai sekarang masih saya pakai,” ujar Mustapa lagi.

Pantauan kabarjambi.net, sebagian dari sarang lebah madu milik Mustapa, dibuat di belakang rumahnya. Berupa kotak segi empat seukuran 30an cm yang ditopang dengan tiang kayu setinggi 70-80 cm.

“Sampai sekarang ini jadi sumber penghasilan kami. Alhamdulillah berkah ya. Kan madu sudah disebutkan dalam Al Quran sebagai minuman terbaik. Untung dulu kami dibina dan dilatih oleh Bang Ojie,” sebutnya lagi.

Bang Ojie dan Mustapa menunjukkan kotak sarang lebah madu

Proses panen, dimulai dengan cara membuka tutup kotak sarang. Membuka tutupnya dilakukan dengan sangat hati-hati. Mustapa yang sudah mengenakan pakaian khusus, membuka dengan pelan.

Lalu ia mengeluarkan sebuah kayu dari dalam sarang. Di kayu sepanjang 30 cm ini sudah melekat cairan lilin berwarna putih yang dihinggapi oleh ratusan lebah. Di dalam cairan lilin ini penuh dengan cairan madu murni. Dengan pelan pula ia memisahkan lebah yang melekat dan menyerahkan cairan lilin itu kepada Ahmad Fauzi Ansori.

Fauzi menuturkan, 27 tahun lalu budidaya lebah madu ia upayakan untuk jadi program unggulan yang diikuti oleh beberapa calon pembudidaya. Setelah merekrut orangnya, lalu ia bawa ke Kuok, Riau, untuk dididik dalam waktu yang cukup lama.

“Alhamdulillah hingga hari ini masih bertahan dan bahkan berkembang dengan baik. Pak Mustapa tadi bilang, lebah yang ia pelihara sekarang masih keturunan bibit yang kami bawa dari Kuok 27 tahun lalu. Oya, tadi kita lihat Pak Mustapa penennya dengan hati-hati, memang harus begitu. Supaya lebahnya tidak panik. Kalau tidak panik, tidak akan menyerang,” ujar Fauzi.

Diterangkan Fauzi, sumber makanan untuk lebah madu cukup banyak. Lebih dari 180 jenis tanaman yang bisa jadi bahan baku makanan lebah. Termasuk cokelat, nangka, dan sebagainya.

“Ini yang bahasa kampungya kita sebut Sialang. Dalam satu sarang hanya ada satu ekor ratu lebah yang jadi raja di sarang. Ukuran ratu lebahnya lebih besar. Lebah jantannya ada ribuan dan semuanya patuh kepada ratu lebah. Yang cari makanan lebah jantan, nama latinnya Apiserana,” terangnya lagi.

Fauzi mengatakan budidaya lebah madu tidak sulit. Hanya saja butuh ketelatenan. Contohnya, sebaiknya di tiang kotak sarang dibuat di tengah kolam mini agar dapat menghalangi predator atau pengganggu/pemangsa naik ke sarang.

“Ya, ekonomi kerakyatan berbasis teknologi tepat guna. Hasilnya dapat diolah sendiri oleh petani dengan alat sederhana bernama sentrifugal untuk memisahkan lilin dan madunya. Hasilnya dapat langsung dijual,” ujar calon Bupati Merangin 2018-2023 ini.

Secara ekonomi, ujar Fauzi, sangat menguntungkan bagi petani. Karena harga madu murni cukup menjanjikan. Terlebih lagi tidak ada bagian dari produksi lebah madu yang terbuang. “Bahkan lilinnya juga bermanfaat. Bisa jadi bahan baku kosmetik yang nilai ekonomisnya tinggi,” ujar Fauzi lagi.

Ia mengatakan bertekad terus mengembangkan budidaya lebah madu ini. Karena sejatinya permintaan pasar cukup tinggi dan pemeliharaannya tidak berbiaya mahal.(mm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here