KabarJambi.net – Ada satu pertanyaan yang selalu mengemuka setiap kali perhelatan Tour de Singkarak (TdS), ajang kejuaraan balap sepeda yang rutin digelar Kementerian Pariwisata setiap tahun sejak 2009 di Sumatera Barat.

Pertanyaan itu adalah seberapa besar manfaat ajang balap sepeda resmi Persatuan Balap Sepeda Internasional di kelas 2.2 Asia Tour itu dapat memberi manfaat secara ekonomi dan pariwisata bagi daerah ini.

Munculnya pertanyaan seperti itu dibenak publik menjadi wajar mengingat biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan tersebut tak sedikit mulai dari anggaran pusat Kementerian Pariwisata hingga APBD kabupaten dan kota demi menyambut kehadiran para pebalap dari dalam dan luar negeri.

Pada TdS 2016 pada 6-14 Agustus lalu, perhelatan yang digelar untuk kedelapan kali ini menyediakan hadiah bagi pemenang sebesar Rp2,5 miliar, belum lagi biaya operasional penyelenggaraan yang tentunya tak sedikit.

Pada sisi lain dijumpai warga yang mengeluhkan merasa terganggu atas kejuaraan yang pada 2016 ini diikuti 110 pebalap dari 19 tim akibat jalan yang dilewati harus dikosongkan.

Akibat jalan harus dikosongkan tak ayal terjadi kemacetan sehingga tak sedikit warga yang mengumpat baik secara langsung hingga di media sosial.

Padahal kejuaraan balap sepeda ini hanya berlangsung sekali setahun dan jika pun ada yang aktivitasnya di jalan raya terhambat paling lama hanya sekitar 40 menit.

Bisa jadi keluhan warga tersebut muncul akibat minimnya sosialisasi even tersebut sehingga tidak mengetahui rute yang dilalui pebalap sehingga ini perlu menjadi evaluasi bagi panitia pelaksana.

Menanggapi hal itu Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel (Asita) Sumatera Barat, Ian Hanafiah menilai kejuaraan balap sepeda internasional Tour de Singkarak (TdS) memberikan efek jangka panjang bagi pariwisata.

TdS dapat menaikkan citra daerah, untuk jangka panjang tentu sangat berpengaruh bagi pariwisata karena setiap kota dan kabupaten pasti akan terus berbenah untuk sarana dan prasarana yang lebih baik.

Ian menjelaskan, orang-orang di luar Sumbar akan tahu tentang wisata di Sumbar karena diekspos ketika TdS tersebut berlangsung dan yang meliput acara ini adalah media nasional dan internasional.

Wisatawan berwisata tidak saja saat TdS, tetapi kebanyakan setelah TdS, karena mereka akan melihat baik di media cetak maupun elektronik keindahan-keindahan Sumbar.

Dia mengatakan semua tempat wisata baik yang dilalui para pebalap TdS atau tidak memang harus terus dibenahi, karena wisatawan tidak hanya berwisata di jalur TdS saja.

Sementara, berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Pusat Statistik Sumbar sebanyak 48.755 wisatawan asing berkunjung ke provinsi itu sepanjang 2015 atau turun 13, 11 persen dibandingkan 2014 yang pada saat itu mencapai 56.111 orang.

“Kunjungan paling dominan berasal dari Malaysia disebabkan masih satu rumpun sehingga banyak persamaan budaya,” kata Kepala BPS Sumbar Dody Herlando.

Sumbar mempunyai potensi alam yang indah, oleh sebab itu harus dioptimalkan pengelolaannya agar tingkat kunjungan lebih meningkat.

Bila perlu instansi terkait melakukan peninjauan apa yang dilakukan dan disukai wisatawan yang berkunjung tersebut untuk meningkatkan pelayanan.

Menurut dia, secara angka trend kunjungan sudah cukup baik namun perlu didorong lagi agar terus meningkat.

Sadar Wisata Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Sumbar Puji Atmoko menilai salah satu upaya yang harus dibangun di daerah ini untuk meningkatkan kunjungan wisatawan adalah membangun masyarakat yang sadar wisata.

Provinsi Bali dan Yogyakarta menjadi daerah tujuan kunjungan wisata tertinggi di Indonesia karena masyarakatnya sudah sadar wisata.

Puji mengatakan tiap masyarakat terutama yang berdomisili di sekitar objek wisata Padang harus diusahakan mendapatkan manfaat dengan diadakannya aktivitas perekonomian di kawasan wisata yang ada.

Sejalan dengan itu Akademisi Universitas Andalas (Unand) Sari Lenggogeni melihat persoalan yang menonjol selama ini dalam membangun pariwisata adalah membangun kesadaran masyarakat agar sadar wisata.

“Jangan sampai sudah capek mengajak orang berkunjung, tiba di Sumbar diperas, membayar mahal sehingga mereka tidak akan mau kembali lagi,”katanya.

Ketidakpuasan dan persepsi risiko saat orang berwisata ke Sumbar cukup tinggi, ditambah lagi adanya risiko rawan bencana.

Ia menyarankan Dinas Pariwisata perlu memiliki website yang memuat dengan jelas informasi yang terintegrasi sehingga jika ada turis yang hendak berkunjung jelas hendak kemana dan memilih tujuan wisata apa.

Menjawab pertanyaan seberapa besar dampak TdS bagi perekonomian Sumbar, Menteri Pariwisata Arief Yahya ketika peluncuran mengatakan kegiatan balap sepeda terbesar di Tanah Air ini memberikan manfaat bagi ekonomi masyarakat, karena masuk kategori olahraga yang menggabungkan unsur pariwisata.

“TdS itu masuk kategori olahraga pariwisata sehingga bisa meningkatkan kunjungan turis ke Sumbar,” kata Arief Yahya.

Pelaksanaan TdS 2016 memiliki dampak secara tidak langsung bagi perekonomian masyarakat.

Ia memberi contoh jika ajang perlombaan balap motor grand prix diadakan di Indonesia maka dampak langsungnya sekitar Rp1 triliun, namun dampak tidak langsung berupa manfaat yang didapat media bisa mencapai Rp2 triliun.

Akan tetapi berdasarkan survei jika diselenggarakan acara seperti itu maka 60 persen pengunjung dan peserta akan kembali ke lokasi tempat dilaksanakan acara, kata dia.

Jadi yang paling konkret adalah manfaat bagi media seperti sponsor hingga media massa.

Selain itu, pelaksanaan TdS akan mendorong perbaikan infrastruktur terutama jalan sehingga kondisinya menjadi lebih bagus dibandingkan sebelum kegiatan.

Artinya kalau jalan bagus juga berdampak bagi ekonomi masyarakat, lanjutnya.

Tentunya pro dan kontra terhadap penyelenggaraan TdS adalah suatu dinamika yang perlu menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara agar kegiatan ini memiliki nilai lebih dan memberikan kemanfaatan bagi publik. (***)

Sumber : Antara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here