Pengungsi Rohingya

Kabarjambi.net – Genosida atas etnis Rohingya dikecam sangat keras oleh organisasi Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Organisasi pemuda Nahdlatul Ulama ini bahkan menyebut pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, sebagai orang yang memuakkan. GP Ansor juga mengutuk keras hal ini.

Pasalanya, Aung San diam seribu bahasa menyaksikan pembantaian etnis dengan mayoritas beragama Islam ini. Padahal Aung San adalah seorang peraih nobel perdamaian.

“GP Ansor juga mencermati bahwa tragedi kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya karena situasi, dimana pemeluk agama mayoritas yang sebenarnya moderat memilih diam dan bukan melawan saat terjadi persekusi terhadap kaum minoritas. Aung San Sukyi, sang penerima Nobel Perdamaian, hanyalah contoh paling memuakkan dari diamnya mayoritas,” ujar DR Mahmud Syaltout, Wakil Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor.

Ia mengatakan, rangakian tragedi kemanusiaan terhadap etnis Rongya di daerah Arakan wilayah Rakhine, Mayanmar,telah terjadi sejak 9 Oktober 2016 lalu. Dimana sejatinya adalah bersoal penguasaan sumber daya alam yang melimpah, kemudian dibungkus dengan permusuhan agama dan etnis.

“Dimana diketahui 60 ribu lebih etnis Rohingya merasa nyawanya terancam pergi menyelamatkan diri dari daerah konflik. Ribuan lebih korban telah tewas dibunuh secara keji. Ribuan orang pula telah dihilangkan secara paksa. 64% dari etnis Rohingya melaporkan pernah mengalami penyiksaan secara fisik maupun mental, 52% perempuan Rohingya melaporkan mengalami pemerkosaan dan/atau pelecehan seksual lainnya yang mengerikan. Ditambah lagi dengan penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang sekaligus penyiksaan selama penahanan terhadap ribuan warga Rohingya, perusakan maupun penjarahan terhadap rumah, harta benda, makanan dan sumber makanan warga Rohingya secara masif, serta pengabaian maupun ketiadaan perawatan kesehatan terhadap para korban,” tambahnya.

GP Ansor menilai bahwa ini merupakan tragedi kemanusiaan terparah di kawasan Asia Tenggara saat ini. GP Ansor juga menduga keras ini dilakukan oleh tangan negara. Baik aparat militer, keamanan, kepolisian maupun pemerintahan Myanmar.

Setidaknya didasarkan pada laporan penginderaan secara satelit oleh UNOSAT maupun HRW. Terdapatnya pola-pola (patterns) serangan terhadap desa-desa etnis Rohingya yang memang telah ditargetkan.

GP Ansor menilai tragedi kemanusiaan terhadap etnis Rohingya merupakan konflik geopolitik. Khususnya pertarungan kuasa dan kekuasaan (yang tak seimbang) di daerah Arakan – Rakhine, yang dihuni mayoritas etnis Rohingya. Dengan dugaan kuat didasarkan pada perebutan secara paksa tanah dan sumber daya, khususnya minyak dan gas.

Khususnya di wilayah-wilayah sekitar pertama, pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 193,6 juta kubik kaki per hari) dan pipa minyak (mulai beroperasi 1 Desember 2013 dengan kapasitas 400 ribu barrels per hari) dari Kyauk Phyu ke perbatasan China sepanjang 803 km. Dimana ini dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 50,9% CNPC (China), 25,04% Daewoo International (Korea), 8,35% ONGC (India), 7,37% MOGE (Myanmar), 4,17% GAIL (India) dan 4,17% investor-investor swasta lainnya.

Lalu kedua di pipa gas (mulai beroperasi 1 Juli 2013, dengan kapasitas 105,6 juta kaki kubik per hari) dari Shwe ke Kyauk Phyu sepanjang 110 km. Yang dikelola oleh konsorsium bersama dengan komposisi kepemilikan saham 51% Daewoo International (Korea), 17% ONGC (India), 15% MOGE (Myanmar), 8,5% GAIL (India) dan 8,5 KOGAS (Korea).

Berikutnya di Blok-blok minyak dan gas di Semenanjung Rakhine di mana Daewoo International (Korea), ONGC (India), MOGE (Myanmar), GAIL (India), KOGAS (Korea), Woodside Petroleum (Australia), CNPC (China), Shell (Belanda/Inggris), Petronas (Malaysia), MOECO (Jepang), Statoil (Norweigia), Ophir Energy (Inggris), Parami Energy (Myanmar), Chevron (Amerika Serikat), Royal Marine Engineering (Myanmar), Myanmar Petroleum Resources (Myanmar), Total (Prancis), PTTEP (Thailand) dan Petronas Carigali (Malaysia) beroperasi dan berproduksi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here