Berbicara tentang keadaan keluarga, cerita saya mungkin agak sedikit berbeda dengan teman teman lainnya. Ayah saya adalah seorang supir di salah satu perusahaan swasta di kota Jambi. Sementara ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga yang setiap harinya mengajarkan Al-Quran pada anak anak sekitar tempat tinggal kami. Kami pun hanya tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di kawasan Jelutung, kota Jambi. Aku bersekolah di SMAN 3 Kota Jambi salah satu sekolah favorit dikotaku.

kiki turkiKeadaan orang tua saya adalah alasan utama mengapa saya bekerja mati matian agar bisa meraih beasiswa. Memang, untuk memenuhi kebutuhan sehari hari kita tidak pernah mengalami kesulitan. Tapi untuk membiayai saya kuliah, meskipun ayah berkata “ saya mampu “ sekalipun, saya percaya saya bisa melakukannya sendiri.

Atas dasar itu pula, jika bagi sebagian orang kuliah menjadi suatu pilihan, bagi saya itu adalah sebuah kewajiban. Jika bagi sebagian orang kuliah di luar negeri merupakan suatu alternative, bagi saya itu adalah sebuah keharusan. Saya percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dan semua orang punya kesempatan yang sama tanpa memandang kasta sama sekali.

Jumlah beasiswa s1 keluar negeri yang sedikit awalnya nyaris membuat saya patah semangat. Kalaupun ada, jumlah beasiswa yang ditawarkan hanyalah 50% atau sejenisnya. Saya pun memutar arah, memutuskan untuk mendaftar di PTN Indonesia lewat program bidikmisi. Saya memilih Universitas Padjadjaran atas dasar penulis favorit saya(Ahmad Fuadi) adalah seorang lulusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Hehe… sedikit lucu memang.

Singkat cerita, saya pun diterima di prodi dan jurusan yang sama seperti beliau lewat jalur SNMPTN dan saya pun lolos beasiswa Bidikmisi. Saat itu saya merasa lega. Setidaknya, saya tetap bisa kuliah tahun ini. Komentar dari teman-teman pun berdatangan, seperti “ Wah.. you will be the next Alif  ” kata mereka. Saya pun segera pergi ke Bandung untuk melaksanakan serangkaian proses daftar ulang.

kiki turki1Almamater dan kartu tanda mahasiswa sudah ditangan.. lengkaplah sudah cerita tahun ini, pikir saya saat itu. Namun di sela sela kegiatan saya di Bandung, sebuah undangan Interview masuk ke akun email saya. Oh ya… beberapa bulan lalu saya memang ikut mendaftar program beasiswa pemerintah Turki. Jujur saja… saat itu bahkan saya hampir lupa mengenai beasiswa itu.

kiki turki2Saya pun dihadapi dengan dua pilihan berat. Saya sudah diterima di salah satu universitas ternama dengan prodi ternama pula. Haruskah saya lepaskan begitu saja kesempatan ini? Di sisi lain.. ini adalah kesempatan saya untuk berkelana, melihat dunia lebih luas lagi. Haruskah saya lepaskan kesempatan luar biasa itu?

Saya pun sadar. Jika saya di Turki, ayah dan ibu tidak perlu cemas apakah kebutuhan saya terpenuhi atau tidak, karena memang  beasiswa penuh yang diberikan pemerintah bahkan lebih dari cukup untuk kehidupan seorang pelajar. Dan dengan tekad yang bulat, untuk meraih mimpi saya, untuk meninggikan drajat mereka, untuk membahagiakan mereka, ya.. untuk mereka.. hanya untuk mereka.. saya pun mantap memenuhi undangan interview yang beberapa bulan setelahnya diikuti dengan datangnya email kelulusan yang membawa saya ke Negeri Al-Fatih.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY