Kabarjambi.net – Nama saya Yasmin Nurul Asysyifa. Saya lahir di Bukittinggi, 12 Juni 1996 dan saya dibesarkan di Jambi.  Dulu saya adalah siswa SMA Xaverius 1 Jambi. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA, saya berencana untuk menlanjutkan studi saya di Luar Negri. Kenapa saya mengambil keputusan tersebut? Semuanya berawal dari kehidupan saya di kelas 2 SMA. Saya mendalami pendidikan di bidang IPS pada saat itu. Saya pada mulanya mencari info pertukaran pelajar ke luar negri. Tetapi saya sudah terlambat .Bisa dikatakan Pendaftaranya sudah tutup. Tetapi dengan kenyataan itu saya tidak menyerah begitu saja. saya mencari berbagai peluang yang ada tanpa sepengetahuan orangtua saya. Pada awalnya saya memilih negara yang notabenenya menggunakan bahasa pengantarnya adalah bahasa Inggris.

Jerman 1Salah satu teman saya pada awalnya menyarankan saya untuk memilih negara Jerman, tapi saya pada awalnya lebih tertarik untuk melanjutkan ke Inggris atau Belanda.Tetapi seiring berjalannya waktu saya mendapatkan berbagai macam kendala. Setelah itu saya memutuskan untuk melanjutkan studi di Indonesia tetapi dengan bidang studi dengan prospek dengan Dunia Internasional. Setelah menjalani test tertulis dan interview dengan beberapa Universitas dan saya lulus pada ujian tersebut. Tetapi saya masih mencari berbagai informasi untuk studi di Luar negri dan saya mendapatkan informasi untuk kuliah ke Jerman. Lalu saya membatalkan mengambil universitas tersebut dan Saya mengikuti salah satu Agen untuk studi ke Jerman.Tetapi bukan berarti Study di Jerman itu Gratis. Kita masih harus membayar biaya semester ticket, dll. Tetapi tidak semahal dengan negara lain.

jerman 2Lalu saya berangkat ke Jerman pada akhir bulan Oktober 2014 dan sesampai di Jerman saya mempelajari bahasanya dari A1 sampai B2Sprachenakademie Aachen di kota Aachen selama 9 bulan. Pada mulanya mempelajari bahasa baru bukanlah hal yang mudah. Ibaratkanlah posisi tersebut saya seperti bayi yang baru lahir. Tidak mengerti apa”. Tetapi dengan waktu dan kesabaran yang saya berikan dalam mempelajari hal tersebut, perlahan saya mengerti bahasa itu.

jerman 3Setelah saya menyelesaikan Sprachkurs saya meningkalkan kota Aachen dan berpisah dengan semua teman” satu Agen.”Setiap ada pertemuan ada perpisahan Juga”. Setelah itu bisa dibilang saya hidup berpindah-pindah.

Apakah bahasa Jerman itu sulit?

Ya tentu saja. Tetapijanganlah menemboki diri dengan bahasa tersebut. Karena bahasa itu merupakan suatu proses dan membutuhkan waktu serta praktek dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi selagi kita terus belajar dan berusaha, seiiring berjalanya waktu kita akan mengerti satu persatu.

jerman 4Setelah itu saya mengikuti test masuk Studienkolleg di WinterSemester 2015. Sayangnya saya pada saat semester itu tidak mendapatkan satupun Studienkolleg. Kalau di tanya,

”Apakah kamu down?” .

Tentu saja!  Tetapi saya tetap untuk mengikuti test di Sommersemester selanjutnya. Lalu saya mendaftar semua Studienkolleg dan mendapatkan banyak penolakan karena sudah berada di jerman selama 1 tahun. Jadi saya hanya mendapatkan sedikit undangan untuk mengikuti ujian test masuk tersebut. Selama menunggu ujian Test tersebut, saya mempersiapkan diri untuk test masuk tersebut dan Alhamdulillah saya lulus di salah satu ujian masuk Studienkolleg dan saya menjalani proses penyetaraan di Europäische Studienkolleg der Wirtschaft Magdeburg.

jerman 7Tidak terasa sekarang saya sudah 2 tahun hidup di Jerman. Alhamdulillah sekarang saya sudah menyelesaikan Studi saya di Europäische Studienkolleg der Wirtschaft. Tahap selanjutnya, saya melanjutkan ke jenjang Universitas. Sekarang saya masih menunggu undangan dari Universität Magdeburg dengan Jurusan Wirtschaftsinformatik.

Tidak sedikit pula saya mendapatkan berbagai macam pengalaman” baru suka maupun duka selama  di Jerman tidak bisa di jelaskan di dalam tulisan ini. Kalau dikatakan,

“Apakah pernah mendapatkan kritikan pedas?”.

Tentu saja pernah! Dari pertama kali saya sebelum berangkat ke Jerman sampai sekarang banyak sekali mendapatkan tanggapan positif dan negatif. Tetapi hal itu membuat saya untuk tetap melanjutkan Keputusan saya.

”Diwanti” untuk pulang habis?” pasti pernah. Itu merupakan salah satu yang di takutkan mahasiswa di Jerman. Tidak sedikit juga mahasiswa indonesia yang di sini tidak mendapatkan studienkolleg ataupun mereka mendapatkan kendala didunia perkuliahan dan mereka mengambil keputusan tersebut.

jerman 6“Apakah susah untuk kerja Parttime di Jerman?” bagi saya itu tergantung individu masing”. Sejak saya tinggal 6 bulan pertama sampai saya selesai Studienkolleg. Saya sudah memulai kerja parttime/fulltime untuk meng-cover biaya kehidupan sehari-hari  supaya tidak memberatkan orangtua saya. Ketika studienkolleg itu memang hal yang tidak mudah. Karena saya harus membagi waktu belajar saya dengan kerja. Tetapi seiring berjalannya waktu saya bisa berhadaptasi dengan kondisi tersebut.

“Apakah menempuh pendidikan di Jerman itu mudah?” Tidak ada hal yang mudah di dunia ini Bung. Segala sesuatu harus di jalani dengan sungguh” serta usaha. Bisa dikatakan saya mendapatkan Studienkolleg setelah mengikuti lebih dari 10 Aufnahmeprüfung (ujian masuk) di berbagai kota dan di ujian terakhir baru saya lulus.

“Ada yang bilang kuliah di Jerman itu Tidak ada test” hal tersebut memang tidak di salahkan. Tetapi untuk bisa masuk universitas di sini. Kalian harus punya ijazah Lulus FSP dari Studienkolleg dan untuk mendapatkan kursi di Studienkolleg tidak semudah yang di bayangkan. Yang mengikuti Aufnahmeprüfung itu lebih dari 500 peserta dari berbagai negara dan kursi yang di sediakan sekitar 30 an. (info detailnya bisa di cari di internet)

Acara persatuan pelajar Indonesia Jerman
Acara persatuan pelajar Indonesia Jerman

“Merasakan kegagalan?”. Ya hal yang pernah terjadi. “Das fallen ist keine Schande, aber das liegen bleiben” .Tetapi dari berbagai kegagalan yang saya alami membuat saya untuk terus berusaha, memperbaiki berbagai macam kesalahan yang pernah di lakukan. Bagi saya ketika kita mendapatkan bekali-kali kegagalan, dengan begitu pula kita harus dua kali lipat meningkatkan usaha. Memang benar pepatah Semua Takdir itu sudah di tuliskan. Tetapi diri kita sendiri lah yang merangkai takdir tersebut. Akan melalui proses jatuh bangun berkali-kali untuk mencapai suatu keberhasilan. Karena sebuah kegagalan adalah salah satu bentuk proses pembentukan diri kita sendiri menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Dalam tulisan ini saya tidak ada bermaksud untuk menakut-takuti kalian tentang Studi di Jerman. Itu adalah fakta bagaimana pengalaman pelajar yang menempuh pendidikan disini. Siapapun bisa melanjutkan pedidikan disini. Jerman memang terkenal dengan Diziplin ilmu yang tinggi dan banyak sekali penemu” akan berbagai teori dll. Bukan berarti Jerman itu hanya untuk orang yang cerdas. Tetapi untuk menempuh pendidikan di Jerman itu harus bermodalkan mental yang kuat, mau bekerja keras dan selalu mau berusaha. Seperti pepatah “ Jerman itu keras seperti Rotinya”.(Amk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here