KabarJambi.net – Meski letaknya tidak jauh dari kantor Gubernuran, namun pelayanan RSUD Raden Mattaher Jambi tidak menunjukkan kualitasnya.

Saat Kabarjambi.net melakukan investigasi kecil, dari berbagai sisi, pelayanan di rumah sakit terbesar milik Pemerintah Provinsi Jambi itu bisa dikatakan sangat buruk. Baik dari sisi dokter, pelayanan perawat, pengelola ruangan, obat-obatan, pengelola parkir hingga pengantar jenazah banyak yang harus dibenahi.

Dari sisi dokter, banyak dokter yang saat ini hanya makan gaji buta. Mereka banyak membuka praktek saat jam kerja. Bahkan, pasien di RSUD Raden Mattaher lebih banyak divisit oleh dokter umum, karena dokter spesialisnya sibuk praktek diluar.

“Ia, mereka banyak praktek di luar. Padahal,  setiap bulan mereka terima gaji, bahkan TKD (Tunjangan Kesejahteraan Daerah) nya gak mau kalo dipotong serupiah saja,” ujar salah satu staf di RSUD Raden Mattaher yang tidak mau disebutkan namanya.

Di sisi pengelola ruangan, sering kali pasien tidak mampu ditolak lantaran  ruangan penuh. Namun, jika ada pasien yang menggunakan nota atau pesan dari salah satu pejabat daerah, makan ruangan itu bisa dicari.

Di sisi perawat, meski jumlahnya sangat banyak, apalagi ditambah honorer, namun kualitas pelayanannya cukup jelek.

Dalam kasus Almarhum Firdaus, keluarga pasien bahkan mengaku pelayanan perawat sangat buruk dan suka membentak jika pasien bertanya sesuatu terkait dokter.

Untuk pelayanan mobil jenazah, hingga saat ini, setiap pasien baik umum maupun BPJS, harus dikenakan biaya sekitar Rp 900 ribu hingga Rp 400 ribu. Bahkan untuk jarak yang jauh, semisal Kerinci, bisa mencapai jutaan. Padahal, anggaran untuk kendaraan ambulan setiap tahun ada dalam APBD. Sopir ambulan juga mendapatkan gaji bulanan dari pemerintah.

Dalam hal parkir, bahkan saat Kabarjambi.net melakukan investigasi, saat melakukan wawancara dengan beberapa staf di kantin RSUD Raden Mattaher, ada motor keluarga pasien yang hilang saat itu.

“Kemarin motor saya juga hilang disini,” ungkap staf RSUD Raden Mattaher itu.

Wajar saja, jika anak buah atau staf di RSUD Raden Mattaher itu tidak baik dalam pelayanan, para pejabatnya juga banyak yang sudah masuk bui lantaran terbukti korupsi. Sebut saja Ali Imron, mantan Dirut RSUD Raden Matteher ini sudah jalani hukuman dalam kasus korupsi pengadaan genset.(nv)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY