KabarJambi.net – Ratusan ilmuwan ternama mengecam sikap calon presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang berjanji membatalkan perjanjian internasional perubahan iklim dan pemanasan global, jika terpilih pada November.

Sebanyak 375 anggota perkumpulan ilmuwan “National Academy of Sciences” menyatakan bahwa jika Amerika Serikat menarik diri dari perjanjian perubahan iklim, maka negara tersebut akan semakin sulit mengembangkan strategi internasional mitigasi bencana pemanasan global.

Perjanjian dimaksud Trump dan ilmuwan tersebut adalah kesepakatan perubahan iklim, yang tercapai dalam konferensi internasional di Paris pada Desember tahun lalu.

“Sikap calon presiden Partai Republik untuk menarik Amerika Serikat dari perjanjian Paris adalah keprihatinan besar kami,” kata ilmuwan itu dalam surat terbuka.

“Pengeluaran Amerika Serikat dari perjanjian Prancis akan menjadi pesan bagi dunia bahwa negara ini tidak peduli terhadap persoalan kemanusiaan akibat perubahan iklim,” kata mereka.

Di antara penandatangan surat terbuka itu adalah pakar biologi E.O. Wilson, fisikawan Stephen Hawking dan Claude Canizarez, fisikawan luar angkasa Simon D.M. White, dan sejumlah penerima Hadiah Nobel seperti Thomas Steitz, Michael Levitt, dan William Daniel Phillips.

National Academy of Sciences adalah kumpulan akademisi swasta yang memberi masukan bagi pemerintahan Amerika Serikat terkait perkembangan ilmu dan teknologi. Para penandatangan menyatakan bahwa surat mereka adalah sikap pribadi yang tidak mengatasnamakan institusi atau perkumpulan apapun.

Di Paris pada Desember tahun lalu, hamir 200 negara sepakat untuk mengurangi gas rumah kaca dan membatasi kenaikan suhu global “jauh di bawah” dua derajat celcius.

Amerika Serikat dan China, dua negara produsen emisi karbon terbesar di dunia, meratifikasi kesepakatan itu pada bulan ini.

Trump akan berpidato dalam konferensi industri gas alam di Pennsylvania pada Kamis. Juru bicara tokoh tersebut tidak menjawab permintaan untuk membalas komentar para ilmuwan.

Trump pernah menyatakan bahwa persoalan perubahan iklim adalah berita bohong yang diciptakan China untuk menghancurkan ekonomi Amerika Serikat. Dia berjanji akan menarik keikutsertaan Amerika Serikat dalam perjanjian Paris jika terpilih sebagai presiden.

Dia juga berkomitmen untuk membatalkan sejumlah kebijakan Obama yang ditujukan untuk menangani persoalan perubahan iklim, termasuk di antaranya aturan pembatasan emisi gas rumah kaca.

Dia mempertanyakan keabsahan hak perintah eksekutif Obama untuk mengesahkan kesepakatan Paris tersebut.

Di sisi lain, calon presiden dari Partai Demokrat Hillary Clinton adalah pendukung perjanjian Paris. (***)

Sumber : Antara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY