Kabarjambi.net – Sejumlah guru di SMKN 11 Kecamatan Pauh, Sarolangun, mengeluhkan sikap Kepala Sekolah (Kepsek). Sebab dianggap melakukan pemotongan terhadap gaji mereka.

Hal itu disampaikan oleh sejumlah guru SMK tersebut. Mereka katakan bahwa Kepsek melakukan pemotongan di luar dari kesepakatan yang telah ditentukan.

Sebab mereka yang dinas luar (DL) daerah juga terkena pemotongan. Padahal kesepakatannya hanya yang tidak hadir tanpa keterangan (alpa) saja yang dipotong.

“Kita mengeluhkan adanya DL dipotong. Alasan untuk bayar guru yang gantikan ngajar karena DL. Itu sudah tugas guru piket,” kata FH salah seorang guru SMKN 11 Sarolangun, Senin (29/5).

Ia mengatakan, pemotongan gaji guru yang izinnya tidak diakui atau pun tanpa kabar, itu juga menyalahi aturan. Karena uang itu tidak dikembalikan ke negara, malah masuk kas sekolah yang tidak diketahui penggunaannya.

“Kita juga mengetahui adanya info mark up data jam mengajar guru. Jadi makan ke atas, makan ke bawah. Satu jam pelajaran kan dibayar provinsi Rp 17.500. Kalikan lah, kebayangkan berapa banyaknya yang terkumpul hasil pemotongan tersebut,” katanya lagi.

Ia menjelaskan, sebelumnya memang ada rapat untuk melaksanakan keputusan pemotongan tersebut. Namun waktu itu hanya untuk yang tidak hadir tanpa keterangan alias alpa saja.

“Ini sekarang tidak sesuai lagi berdasarkan hasil rapat. Bahkan ada yang terkena potongan sampai Rp 700 ribu satu guru dan sudah berlangsung sejak Januari lalu,” pungkasnya.(Harun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here