Hidup di Mimpi Orang Lain

Sebagian orang bermimpi agar bisa menggapai sesuatu, tapi dulu bahkan aku tidak berpikir untuk kuliah ke luar negeri. Sekarang aku sudah sekitar setahun lebih di Jerman menyelesaikan penyetaraan dan Insya Allah sebentar lagi akan kuliah S1.

Aku berminat kuliah ke Jerman ketika sekolah di Titian Teras bersama Ahmad Mustain Billah. Saat-saat yang sulit adalah proses sebelum berangkat ke Jerman, dan ia lah yang sangat banyak membantu aku ketika itu. Sekarang kami tidak lagi di kota yang sama di Jerman. Saya baru saja lulus Penyetaraan SMA di Studienkolleg Nordhausen, sedangkan dia juga di saat yang hampir sama lulus di Studienkolleg Wismar.

Emil di JermanHal pertama yang membingungkan dalam kuliah di luar negeri tentulah bahasa. Sayangnya aku bukanlah penggemar pelajaran bahasa. Setamat SMA, kami mengikuti kursus bahasa Jerman sambil mengurus keperluan berangkat. Alhamdulillah, aku akhirnya bisa menguasai dasar bahasa Jerman. Hingga akhirnya kami terbang ke Jerman.

EmilBukan perkara mudah untuk anak-anak muda untuk menyadari betapa jauhnya perbedaan budaya antara kampung halamannya dan rumah baru. Orang-orang di sini benar-benar sangat dingin, sedingin cuaca di musim dingin. Selain itu kendala bahasa membuat pendatang baru merasa terkungkung. Bahkan untuk memahami apa yang mereka bicarakan saja sudah cukup untuk jadi alasan pukul-pukul kasur di rumah.

Aku memilih bahwa masalah bahasa, kita harus bersabar karena itu hanyalah masalah waktu. Benar saja, lama-kelamaan paling tidak kita memahami apa yang orang Jerman bicarakan. Lalu kita bisa berbicara nyambung. Pengalaman kami, awalnya kami mencoba berbicara supaya tidak kelihatan diam saja, walaupun sebenarnya kami tidak tahu apa yang kami bicarakan. Hahaha.

Emil1Program penyetaraan untuk mahasiswa asing normalnya berjalan satu tahun. Tersedia beberapa Studienkolleg di Jerman untuk itu. Aku merupakan orang yang sangat beruntung tidak menunggu lama untuk mendapatkan Studienkolleg. Aku lulus di saat tes masuk Studienkolleg Nordhausen. Sekedar informasi, puluhan siswa Indonesia pulang tiap tahunnya karena mereka tidak juga lulus satu pun tes masuk Studienkolleg.

Masa Studienkolleg sudah berlalu. Sekarang akhirnya aku bisa menatap kuliah S1. Aku berencana mengambil jurusan teknik mesin yang untungnya tepat di negara yang benar-benar pas untuk itu. Sebenarnya cerita ini masihlah panjang ke depannya dan bahkan aku belum memulai kuliah di sini. Tapi paling tidak, beberapa langkah sudah aku selesaikan dalam studi di Jerman ini.

Aku akan memberikan saran-saran untuk pelajar yang masih di SMA. Sebagian pembaca mungkin sudah tahu, bahwa studi ke Jerman tidaklah gratis. Karena itu, sebagian besar dari peminat kuliah luar negeri memilih mencari beasiswa penuh, dimana hal seperti itu tidak berlaku untuk S1 di Jerman. Artinya, orang-orang harus berpikir dua kali untuk kuliah di Jerman. Kalaupun ada yang ingin ke Jerman, rata-rata masih menaruh harapan pada beasiswa penuh di negara lain.

Emil2Selain itu, masalah lain yang bisa menjadi kendala adalah bahasa. Seperti yang sudah aku ceritakan, bila memang serius, maka bahasa apa pun yang kalian pelajari, itu hanyalah masalah waktu. Aku sendiri dulu bahkan di SMA adalah orang yang sangat pasif di pelajaran bahasa Inggris.

Sudah banyak artikel yang menjelaskan betapa bagusnya kuliah di Jerman. Artinya, biaya yang telah dikeluarkan untuk kuliah di Jerman tidaklah akan sia-sia, selama siswa tersebut benar komitmen dalam studinya. Sebagai gambaran, orang Turki sendiri banyak yang berimigrasi ke Jerman. Juga selama di Studienkolleg aku melihat, bahwa ada banyak siswa Rusia yang ingin kuliah di Jerman. Aku bukan hendak mengatakan kuliah di negara-negara lain tersebut tidak bagus. Hanya saja, harga yang kalian bayar ketika kuliah di Jerman akan mendapatkan hasil yang setimpal. Bila memang berminat, aku siap memberikan informasi yang diperlukan. Selain itu juga ada beberapa Mahasiswa lain yang bisa memberikan informasi.

Emil3Sebagian orang melihat kuliah di Eropa hanyalah untuk orang-orang yang memiliki uang banyak. Padahal sebenarnya kemauan yang kuatlah yang mengantarkan aku ke sini. Sekarang, takdir membawa aku hidup dan berjuang untuk kuliah di tempat yang sudah banyak diimpi-impikan orang lain.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY