Cerpen

 


 

Wanita Ditelan Ombak

 

OmbakPenantian adalah hal yang membosankan. Namun tidak bagi wanita seperti diriku. Saat senja menyapa aku duduk manis dipantai menunggu kapal datang. Matahari tengah beranjak tenggelam di kaki cakrawala. Langit mulai meredup. Rerumputan yang mulai menguning bergoyang tertiup angin. Matahari mulai condong ke barat, sinarnya menerobos lewat celah-celah daun yang rimbun Aku masih menunggu dan menunggu. Setiap kali ada kapal yang berlabuh aku berharap ada orang yang kutunggu didalamnya. Namun ia masih belum datang.Aku memasukkan tulisan ke dalam botol lalu melemparnya ke laut dan membiarkannya diseret ombak. Begitulah caraku melepas kerinduan.

Sayup-sayup terdengar adzan berkumandang. Aku kembali ke rumah membawa kekecewaan. Di ujung jalan, sudut mataku menangkap gubuk reyot yang dindingnya terbuat dari bilah-bilah bambu. Di sampingnya berdiri kokoh pohon-pohon tegak dengan gagahnya. Percabangan mendatar seperti jeruji roda pedati. Dalam gubuk reyot doaku tak pernah lepas untuknya. Iya, dia adalah pria yang sangat ku cintai. Masih berbekas di memoriku janjinya dulu melalui sebuah cincin manis yang melingkar di tanganku.

***

Suara burung bernyanyi bersahutan dengan suara ombak bagai alunan orkestra mewakili alam semesta. Aku ingin mencoba berdamai dengan keadaan, mencari sepenggal asa agar aku mampu bertahan di sudut Kota ini. Kurapatkan jaketku menepis hawa dingin yang menusuk tulang. Aku mulai menyusuri jalan setapak tanpa aspal yang sedikit becek sisa hujan semalam. Di ujung pandangan mataku menangkap sebuah sekolah kecil berserta dengan siswa yang menungguku. Semua siswa berhamburan masuk kelas.

“Mana Rika?”

“Rika tidak lagi sekolah Bu. Dia diminta berkeja saja oleh orang tuanya,”

Miris mendengar pengakuan muridku. Memang beginilah kondisi di kampung. Banyak anak-anak putus sekolah akibat jeratan kemiskinan. Tidak sedikit pula yang menikah di usia muda karena hidup penuh merana. Ku buka buku pelajaran lalu menggoreskan kapur di papan hitam. Ketika jam sekolah usai aku menulis surat kecil.

“Hari ini aku kehilangan seorang murid yang sangat aku banggakan dan aku sayangi. Banyak misteri tak terungkap dalam hidup ini. Menanti asa yang belum pasti.

Setelah menulis aku memasukkannya ke dalam botol lalu membuangnya ke laut. Membiarkannya terombang-ambing oleh ombak. Seperti inilah curhatku dengan alam. Biar alam mengetahui rasa hatiku. Sesampainya di rumah mataku terasa segar melihat rumah yang telah bersih dan indah.

“Tumben umi mau membersihkan rumah seperti ini,”

“Ini demi menyambut Pak Johan yang akan melamarmu besok,”

“Kenapa cepat sekali?”

“Dia tidak mau menunggu lama.”

“Apa surat cerai dengan mantan istrinya sudah keluar?”

“Umi tidak tau, yang jelas kamu siap-siap saja dengan pilihanmu!”

Aku membantingkan tubuh ini di atas kasur. Apa aku harus menerima atau tidak lamaran Pak Johan? Pak Johan memang seorang yang mapan dan terpandang di kampung. Namun karakter buruknya membuatku tidak ingin menjadi istrinya.Kata warga perceraian Pak Johan karena kasus KDRT dan dia juga sering ke tempat prostitusi.Aku tak mau jadi korban kedua Pak Johan namun aku tak mau pula dijuluki parawan tua di desa ini. Sepertiga malam aku bangun untuk shalat istikharah meminta petunjuk Allah.

***

Aku melangkahkan kaki menuju rumah Rania sahabatku. Mungkin ia bisa membantu. Setidak-tidaknya memberikan saran padaku. Sesampainya di rumah Rania aku disambut hangat oleh keluarganya. Mereka mempersilakan masuk.

“Ada apa kamu kesini Fatimah?”

“Sebaiknya kita berbicara di kamarmu saja agar tidak ada yang mendengar!”

Kami pun beringsut ke kemar Rania dan duduk tepat diatas kasur.

“Ada apa mah?”

“Pak Johan besok mau melamarku, apa aku harus menerima lamarannya?”

“Terima saja, kamu harus ingat umur.”

“Tapi aku tidak suka karakter Pak Johan yang katanya ringan tangan.”

“Kamu tau dari mana kalau Pak Johan ringan tangan?”

“Aku dengar kalau ia cerai karena kasus KDRT, lagi pula aku belum bisa melupakan Bang Rahman.”

“Bang Rahman? Kamu mesti sadar kalau Bang Rahman tidak peduli sama kamu buktinya sampai sekarang dia tidak memberi kabar.”

“Iya Rania.”

Aku pulang membawa kebimbangan dan kebingungan. Bukannya memberi masukkan tapi temanku malah membuatku binggung. Perang perasaan berkecamuk dalam diriku. Apakah harus menerima atau menolak? Saat pulang aku mengambil setangkai bungai mawar lalu mencabut daunnya satu-persatu sambil mengatakan terima tidak, terima tidak.

***

Disuatu pagi yang terlambat kusadari. Semua benda seolah tak bersahabat denganku. Pohon-pohon seperti tak ingin menyapa. Burung tak berkicau seperti mana biasanya. Kaca di hadapanku menjadi saksi bisu diriku merias wajah menyambut Pak Johan dan keluarganya. Aku merias diriku seadanya saja, tidak terlalu menor. Tiba-tiba suara mesin mobil berbunyi. Jantungku berdegup cepat. Apakah itu keluarga Pak Johan? aku menyibak tirai jendela. Dugaanku benar. Karena rumah yang tidak terlalu luas maka hanya beberapa orang saja yang masuk. Selebihnya berada di teras luar. Aku di sebelah umi tak berani mengangkat kepala.

“Bagaimana keadaan umi?”

“Alhamdulillah sehat.”

“Sudah berapa lama Fatimah mengajar?”

“Sudah lima tahun.”

Mereka mengehentikan basa-basi lalu masuk ke inti pembicaraan.

“Saya rasa kami tidak perlu basa-basi, apa Fatimah sudah punya calon suami?”

“Sebaiknya tanyakan langsung pada orang yang bersangkutan!” kata umi.

Aku menggelengkan kepala dan mereka mengerti maksudku.

“Syukurulah, apa saudari Fatimah bersedia menerima Pak Johan sebagai suami anda?”

Aku tertegun, jantungku berdetak cepat, bibirku bergetar. Perlahan bibir ini mengeluarkan suara.

“Sebelumnya terima kasih karena telah bersedia bersilaturahim ke rumah kami. Saya tau Pak Johan datang ke sini dengan niat yang mulia dan hati yang bersih. namun saya meminta maaf belum bisa menerima lamaran Pak Johan karena saya sudah berjanji pada seseorang.”

Pak Johan memperlihatkan muka masam beserta keluarganya pertanda kekecewaan.  Aku tertunduk tak berani menatap wajah masam itu. Pak Johan mulai angkat bicara.

“Kenapa kamu menolakku, apa aku kurang kaya? kurang jabatan?”

“Maaf Pak saya menolak anda karena saya juga tidak suka karakter anda yang ringan tangan dan sering ke tempat maksiat.”

“Wanita lancang, kamu tau aku ini orang paling kaya di kampung ini dan juga paling tinggi jabatan, aku bisa membeli rumahmu sekaligus dirimu kalau aku mau.”

“Sabar pak, sabar pak masih ada wanita lain” kata sepupu Pak Johan sambil mengelus dada Pak Johan agar ia bersabar.

Keluarga Pak Johan pulang membawa kekecewaan.  Sebenarnya aku juga tidak enak hati menolak lamaran Pak Johan, apalagi ia keluarga terpandang di kampung ini. Kata-kata sudah terlanjur di lontarkan. Bubur pun tak bisa berubah menjadi nasi. Aku harus berani mengambil konsekkuensi dari tindakanku.

***

Keesokan harinya aku pergi ke pantai sambil membawa botol berisi surat yang kutulis. Aku melemparkannya ke laut membiarkannya terbawa ombak.

Hari ini aku menolak lamaran dari Pak Johan bukan karena angkuh atau sombong namun demi kebaikan diriku dan juga demi kesetiaanku pada Bang Rahman.”

Begitulah isi suratku. Setiap hari aku duduk membuat surat lalu membiarkan laut membawannya. Dalam surat itulah aku melepaskan rindu. Semenjak aku menolak lamaran Pak Johan warga kampung semakin sinis melihatku. Mereka menganggapku wanita tak tahu untung. Sudah baik Pak Johan melamarku tapi aku menolaknya. Begitulah persepsi mereka namun aku tak memikirkan semua anggapan orang. Anjing menggonggong tapi kafilah tetap berlalu. Namun tidak untuk berita kali ini. Rania telah berada di rumah sebelum aku sampai.

“Tumben kamu kesini Rania.”

“Ada berita yang aku mau sampaikan padamu.”

Aku mengerutkan kening “Berita apa?”

“Mau berita baik dulu atau berita buruk dulu?”

“Berita baik dulu.”

“Oke berita baiknya keputusan kamu menolak Pak Johan memang tepat. Pak Johan telah masuk bui karena kasus KDRT. Kalau sampai kamu menikah dengannya maka hidupmu akan hancur. Kalau berita buruknya aku masih ragu untuk mengatakannya padamu.”

“Katakan saja Rania!”

“Apa kamu sanggup mendengarnya?”

Rania membuatku semakin penasaran “Iya katakan saja,” temanku ini menundukkan kepalannya.

“Aku baru dapat berita dari kakakku di Jakarta kalau Bang Rahman telah meninggal karena serangan jantung. Namun, sebelum meninggal ia menuliskan ini untukmu.”

Aku mengambil surat dari tangan Rania.

“Untuk Fatimah

Wahai adindaku Fatimah bagaimana kabarmu kasih? Abang sangat merindukannmu. Walau terbaring di kasur ini. Maaf tidak bisa memenuhi janji untuk menikahimu. Kita memang mampu merencanakan namun Tuhan lah yang menentukan. Kita harus menerima takdir kalau kita tidak jodoh. Namun abang yakin kamu bisa bahagia walau bukan bersama diriku Rahman”

Langit serasa runtuh bagiku saat membaca surat dari Bang Rahman. Aku terkulai lemas. Aku terbangun membuka mata menatap ketidakadilan dunia. Kembali pada kenyataan yang tak sesuai harapan. Kenapa hal buruk ini mesti terjadi padaku. Penantian yang begitu lama sirna bagai ditelan ombak.

“Akirnya kamu sudah bangun.”

“Berapa lama aku tertidur Bu?”

“Sekitar tiga jam?”

Padi menguning, kelapa satu persatu jatuh ke tanah. Aku tidak lagi peduli akan masa depanku, tidak peduli sekitarku, aku juga tidak peduli lagi tentang dunia. Aku tidak tau entah berapa lama aku berada di kamar. Aku kehilangan semua ingatanku yang ada dalam benakku hanya Bang Rahman aku sering berhalusinasi membayangkan Rahman ada didepanku dan seolah-olah bercakap denganya. Suatu malam di balik jendela aku melihat Bang Rahman berada di pantai, aku keluar untuk menemuinya. Sesampainya di Pantai Bang Rahman mengulurkan tangannya. Aku pun menangkap uluran tangannya. Aku merasa sangat sangat senang. Bang Rahman menarikku ke laut. Ia membawaku terus ketengah sampai aku tak sadar kalau ombak telah menggulung tubuhku dan membawaku menemui Bang Rahman. Tiga hari kemudian beredar berita seorang wanita terseret ombak.

 

Riwayat hidup :

Penulis Yuda pratama lahir di Padang 09 Juli 1996. Alamat Desa Mendalo Asri, kec Jaluko, Kab Muaro Jambi, Provinsi jambi. Saat ini sebagai mahasiswa sekaligus aktivis kampus. Sebagai seorang penulis sekaligus anggota FLP penulis berharap artikel ini diatas bisa dimuat sebagai kontribusi penulis untuk Indonesia.  Saat ini penulis sendiri banyak menulis untuk komunitas dan media-media. Banyak pula kegiatan kampus yang diikuti.