KabarJambi.net – Matahari sudah di puncak edarnya. Sekira jam 13.30 WIB, Kamis, 2 Februari lalu. Saya dan istri Hj Zusmaini serta rombongan tiba di Desa Ngaol, Kecamatan Tabir Barat.

Begitu mobil berhenti di depan warung, saya meloncat keluar. Satu langkah kecil membawa saya kembali menginjakkan kaki di atas tanah Desa Ngaol. Karena sebelumnya, belasan tahun lalu, saya juga sudah datang ke Ngaol bersama mantan Bupati Merangin, Ayahanda Datuk H Rotani Yutaka.

Dari ketinggian belasan meter, pandangan mata saya langsung tertuju ke seberang sungai. Beberapa rumah penduduk di tengah sawah yang padinya mulai tumbuh hijau. Cukup sejuk dipadang.

Namun berbeda ketika mata saya tertuju ke alur sungai. Nyaris tak ada lagi nuansa alami. Semua terlihat seperti hamparan bebatuan memanjang. Bekas kerukan alat berat tambang emas warga.

Lalu, mata ‘tertumbuk’ ke delapan buah perahu bermesin, ketek. Bersandar di dermaga alam, diantara bebatuan di pinggir Sungai Batang Tabir. Terpal berwarna cerah terlihat menutupi barang bawaan perahu-perahu ketek ini.

Sayang, kami tak bisa memakai semua perahu ketek ini ke Desa Air Liki. Karena jumlah anggota rombongan yang terbatas, hanya lima ketek kami naiki. Walau dalam hati terasa kasihan terhadap tiga pengemudi ketek lainnya.

Di bawah sengatan terik matahari siang, kami mulai duduk di atas perahu. Rasa haru pun langsung membuncah dalam dada ketika pertama kali duduk bersama istri di atas ketek ini.

Kepada istri, saya katakan tentang perasaan saya saat itu. Ternyata Upik (sapaan Hj Zusmaini) juga merasakan hal sama. Di atas ketek saya katakan kepada istri, jika tuhan izinkan, di waktu mendatang akan sering berkunjung ke Air Liki.

Sekitar 20an menit menyusun barang dan penumpang, mesin ketek pun menderu. Bising suara mesin di bagian belakang saling bertingkah dengan tepukan air ke dinding ketek. Sesekali cipratannya membasahi muka dan badan.

Asyik dan seru. Saya terkagum-kagum dengan betapa piawainya Sap, sopir ketek yang membawa kami. Ia begitu lihai menbawa ketek menari membelah ombak di antara napal dan bebatuan.

Belum lagi panorama sepanjang perjalanan. Batu-batu seperti dinding yang disusun sedemikian rupa. Lalu air terjun di kiri sungai menjulang setinggi puluhan meter. Eksotis.

Sembari merasakan serunya perjalanan, saya merasakan hal lain. Sesuatu yang sangat kontras. “Puluhan tahun naik ketek ini dirasakan masyarakat Air Liki dan Air Liki Baru. Bagaimana kalau ada keluarga mereka yang sakit. Betapa rawannya membawa orang sakit menggunakan perahu ketek. Bagaimana kalau ada yang meninggal?,” ribuan pertanyaan di tanpa jawaban saling begumul dalam dada.

Terbayang sekira lima tahun lalu. Saya pernah membaca tulisan di salah satu koran ternama di Provinsi Jambi. Tentang seorang perawat bernama Erwan Dinatha.

Lewat akun facebook-nya, Erwan yang putra asli Air Liki, bertutur mengenai betapa sulitnya mengevakuasi pasien di Air Liki. Salah satu tantangannya adalah harus naik ketek ke Desa Ngaol. Karena memang tidak ada jalan darat.

“Harus ada jalan. Setidaknya jalan setapak dengan semen. Sehingga pada malam hari sekalipun, masyarakat bisa keluar masuk. Kalau pakai ketek, bagaimana caranya jalan malam hari. Bisa nabrak batu atau napal,” ujar saya kepada Pak Ifdil, tokoh masyarakat Desa Ngaol yang menemani ke Air Liki. (Bersambung)

(Ahmad Fauzi Ansori)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY