Bendahara Sekretariat DPRD Merangin, Yusmarni

KABARJAMBI.NET – Yusmarni tak kuasa menahan air matanya. Sembari bertutur, tangannya berkali-kali menjangkau tissue. Menghapus air bening yang jatuh mengalir di pipinya.

Tekanan yang begitu besar memaksa perempuan berjilbab ini mengibarkan bendera putih. Menyerah dan tak sanggup lagi menjadi juru bayar di Sekretariat DPRD Kabupaten Merangin.

Padahal, Yusmarni jelas bukan ‘perempuan sembarangan’ dalam hal mengurus keuangan. Dua tahun (2015-2016) ia menggondol predikat bendahara terbaik se-Kabupaten Merangin. Sebuah ukuran yang kiranya layak untuk jadi alat ukur kapasitas dirinya sebagai bendahara.

Namun mengurus DPRD Merangin, Yusmarni pun angkat tangan. Pengakuannya, pekerjaan yang ia jalani penuh tekanan dari banyak pihak. Bahkan ia mengaku dipaksa membayar untuk hal yang tak tersedia anggarannya.

“Dak sanggup lagi. Makin penghujung tahun, keadaan disini (Sekretariat DPRD Merangin) makin meruncing,” ujar Yusmarni, Kamis (4/9).

Dengan tekanan yang begitu berat, serta iklim kerja yang sangat tak sehat, ia memilih mengundurkan diri. Bahkan Yusmarni sudah melapor kepada atasannya. Yakni Seketaris DPRD Makmur dan Kabag Umum Sekretariat DPRD Amir Tamsil.

“Dak sanggup ditekan lagi. Dana yang tidak ada tapi dipaksakan harus ada. Seperti biaya perjalanan dinas tetap dipaksakan bayar meskipun tak ada lagi anggarannya. Harus bayar dengan uang siapa?,” ucapnya sembari terisak.

Menariknya, Yusmarni mengaku bukan hanya oleh oknum anggota DPRD. Tapi juga oleh pihak lain di Sekretariat DPRD Merangin. “Dak sanggup nian. Di sini susah nian orang mau ikut aturan,” tambahnya lagi.

Namun demikian ia bertekad tak ‘main kabur’ saja. Yusmarni mengatakan akan menyelesaikan tugas hingga akhir triwulan ke tiga tahun anggara 2017 ini. Pengunduran dirinya ia akui juga sudah direstui Makmur dan Amir Tamsil.

Lalu seberapa parah sebenarnya situasi di DPRD Merangin. Sumber kabarjambi.net yang juga oknum anggota DPRD Merangin berkenan sedikit buka kartu. Hanya saja ia meminta tanpa menulis nama karena ingin menghindari gesekan dengan anggota DPRD yang lainnya.

Ia mengatakan, di antara pembiayaan yang paling sering jadi masalah adalah soal anggaran perjalanan dinas. Dimana anggaran untuk satu tahun bahkan sudah habis sebelum masuk semester kedua.

Konflik internal DPRD ia akui juga masih terus terjadi. Meski tak lagi terlihat terbuka seperti beberapa bulan yang lalu. Namun di antara anggota DPRD menurutnya masih terbentuk blok-blok yang tak saling berkecocokan.

“Sebenarnya malu nak diceritokan. Sayo jugo anggota DPRD, jugo wakil rakyat. Tapi memang macam itu lah kondisinyo. Ditutup orang jugo tau. Macam di pasar bae, main di jalan masing-masing,” ujarnya.(Marsis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here