KabarJambi.net – Shock therapy atau terapi kejut, dilakukan oleh Markas Besar (Mabes) Polri di bawah kepemimpinan Jenderal Polisi Tito Karnavian menjelang akhir pekan lalu, tepatnya pada Jumat, 23 September 2016.

Tak pelak, Kapolda Riau Brigjen Pol Supriyanto dan Wakilnya Kombes Pol Suharsono dicopot dengan dimutasi ke Mabes Polri.

Brigjen Pol Supriyanto menduduki jabatan baru sebagai Inspektur Wilayah II Inspektorat Pengawasan Umum Polri.

Jabatan yang ditinggalkannya diisi oleh Brigjen Pol Zulkarnain, sebelumnya merupakan Kapolda Maluku Utara.

Untuk Wakapolda Riau Kombes Pol Suharsono, dimutasi ke Inspektur Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia I Inspektorat Wilayah III Polri.

Posisi Wakapolda Riau akan diisi oleh Kombes Ermi Widyatno yang sebelumnya menjabat sebagai Widyaiswara Muda Sespimti Sespim Polri, Lemdikpol.

Itu, tertuang dalam Surat Telegram (ST) Kapolri berisi mutasi dan promosi 47 perwira tinggi dan perwira menengah Nomor: ST/2325/IX/2016 yang ditandatangani oleh Wakapolri Komjen Syafruddin.

Publik di Riau pun cukup terkejut dengan surat telegram rahasia yang dikeluarkan oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Pasalnya, Supriyanto baru bertugas sekitar enam bulan di Bumi Lancang Kuning, julukan bagi Riau. Sedangkan Suharsono, baru bertugas di wilayah hukum Riau tiga bulan lebih.

Kabar ini pun langsung tersiar. Lantas kapolda Riau mengirim pesan melalui aplikasi “WhatsApp” kepada sejumlah awak media di ibu kota provinsi yakni Kota Pekanbaru.

“Kepada rekan-rekan, saya beserta keluarga mohon maaf atas segala kesalahan kami; baik yang disengaja ataupun tidak disengaja,”.

“Dan tak lupa saya beserta keluarga mengucapkan terima kasih atas segala sesuatu yang telah diberikan kepada kami. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat & Ridhonya kepada kita semua…. Aamiin,” ucap Brigjen Pol Supriyanto.

Memang, Polda Riau sedang diterpa isu tak sedap dalam beberapa bulan terakhir ini.

Seperti terbitnya Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan (SP3) terhadap 15 perusahaan yang diduga terlibat atas kebakaran hutan dan lahan di Riau pada tahun 2015.

Lalu bentrokan berdarah di Kabupaten Kepulauan Meranti yang berawal dari cinta segita pegawai honorer Dispenda setempat Apri Adi Pratama, seorang wanita dan anggota Kepolisian Resor Meranti bernama Brigadir Adil S Tambunan.

Terakhir sejumlah pejabat teras di lingkungan Polda Riau terlihat lagi “kongkow-kongkow” dengan pengusaha kelapa sawit yang tengah didalami keterlibatannya, terkait masalah kebakaran lahan di Kabupaten Rokan Hulu.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar menampik tudingan mutasi dua pejabat penting di Riau dikaitkan dengan kasus kebakaran hutan dan lahan.

“Tidak, tidak betul. Ini cuma pergantian posisi saja,” ucapnya. (***)

Sumber : Antara

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY