KabarJambi.net – Sedih dan prihatin mendapatkan foto-foto para pelajar Indonesia bergelantungan di jembatan gantung yang rusak ketika berangkat sekolah, membuat arsitek dari Swiss, Toni Ruttiman, datang langsung ke Indonesia. Dia pun bergerak membantu pembangunan jembatan di daerah pelosok Indonesia.

Diinformasikan sosiolog Universitas Indonesia, Imam B Prasojo, Toni Ruttiman telah membangun puluhan jembatan selama tiga tahun. Dia bergerak mengajak warga bergotong-royong membangun jembatan gantung untuk menyambung akses jalan yang terputus.

Jembatan yang dibangun arsitek swiss“Ruttiman sudah memasang 61 jembatan gantung di pelosok Nusantara seperti di Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Sulawesim Maluku Utara, dan NTT,” ujar Imam mengisahkan.

Lantaran minimnya bantuan dari Pemerintah Indonesia, Ruttiman secara mandiri mengupayakan ketersediaan bahan baku. Ia mengambil langsung dari Swiss lewat kenalan dekatnya yang mempunyai perusahaan pipa ternama. Tapi sayang, upaya dan bantuan Toni Ruttiman tidak mendapat dukungan dari Pemerintah Indonesia. Belakangan, tutur Imam, Ruttiman bahkan harus menghadapi ribetnya birokrasi pengiriman barang.

“Saya mengikuti betapa sulitnya mengurus proses administrasi import barang bantuan. Saya merasa kesal menghadapi birokrasi yang begitu ruwet dan lambat ini, walaupun untuk import barang bantuan sekalipun,” ujar Imam geram.

Belakangan diketahui, barang bantuan yang mengendap di bea cukai itu malah dikenai denda yang tidak sedikit, yakni sekitar Rp 195 juta.

Imam mengaku makin malu dan cemas ketika mendapat kiriman email dari Ruttiman yang hendak menyudahi upaya bantuan suka relanya karena merasa dihambat oleh birokrasi yang rumit.

“Terus terang saya malu menghadapi kejadian ini. Saya ingin sekali berteriak sekerasnya mewakili rakyat yang selama ini masih mengharapkan bantuan Toni Ruttiman. Maukah pemerintah mengambil alih denda yang harus dibayar ini? Saya juga terpikir, bisakah kita bersama-sama urunan untuk mengganti denda itu agar kita sebagai bangsa setidaknya memiliki harga diri? Entahlah!,” tulis Imam. (am)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY