Mimpi yang Mustahil?

Bismillah..

 

“Apakah kesempatan kuliah ke luar negeri itu hanya untuk orang yang pintar dan orang yang memiliki banyak uang?”

Pertanyaan itulah yang terus menghantui diriku selama aku menduduki bangku SMA. Namaku Andre Pawira, aku berasal dari SMAN Titian Teras Jambi, dan aku sekarang sedang menimba ilmu di FEFU (Far Eastern Federal University) Vladivostok,Russia. Sekarang sudah 2 tahun aku berada di negeri beruang merah ini, segala macam suka-duka telah kulalui dan akan terus kuhadapi untuk beberapa tahun kedepan. Ahh aku jadi ingat segala usaha dan tantangan yang harus kulalui untuk berada disini, semua itu berawal dari sebuah mimpi dan candaan, semua itu berawal di SMAN  Titian Teras.

“Jadi nanti setelah selesai di SMA mau kemana?”

Pertanyaan yang selalu ditanyakan kepadaku pada tahun terakhirku di SMA. Bagaimana mungkin aku bisa menjawabnya? Semua masih tidak pasti, akupun bingung sendiri. Mungkin adik-adik kelasku yang sedang berada di tahun terakhir SMA-nya bisa merasakan ketakutan yang kuhadapi dulu, ada “harapan-harapan” yang harus kita pertanggung jawabkan. Awalnya aku ingin mempelajari ilmu hukum di universitas top Indonesia karena advokat merupakan cita-citaku saat itu. Tapi semua berubah ketika ada sebuah seminar yang diadakan di SMA ku, seminar yang bertema “belajar ke luar negeri” membuatku terpesona. Ternyata Dunia ini begitu luas, banyak hal yang belum kuketahui, setelah mendengar isi seminar tersebut aku langsung menelfon orang tuaku dan menyampaikan niatku untuk belajar keluar negeri.

SMA Titian TerasDengan begitu menggebu-gebu aku menceritakan impianku kepada kedua orang tuaku, tapi berbanding terbalik dengan diriku yang begitu semangat untuk mengejar impianku, orangtuaku pesimis untuk impian ke luar negeri tersebut karena memang saat itu biaya untuk berangkat ke luar negeri tidak sedikit. Kami berdebat, aku yang keras kepala dan tidak berfikir panjang tetap kukuh akan pendapatku bahwa kuliah di luar negeri adalah hal yang tepat, sedangkan orang tuaku yang berfikir dengan hati-hati dan pertimbangan yang tepat tidak menyetujui pendapat itu. Akhirnya ayahku berkata kepadaku “Ya sudah, andre boleh ke luar negeri asalkan itu beasiswa, titik!” dengan itu akhirnya hilang harapanku untuk kuliah ke luar negeri karena menurutku untuk mendapatkan beasiswa itu hanyalah untuk orang –orang jenius.

“Jangan hanya bermimpi, bangun dan usahakan untuk menjadikan kenyataan”

Setiap laki-laki pasti pernah mengagumi seseorang di masa SMA nya. Akupun juga begitu hahah, kebetulan yang kukagumi adalah kakak kelas ku yang setahun lebih tua di SMA dulu. Suatu malam ketika aku bercerita dengan teman-temanku tentang betapa indahnya “masa depan” yang kami impikan, seseorang menyeletuk “eh kalian tau kan kakak kelas yang andre kagumi itu? Dia berhasil masuk ke salah satu universitas top Indonesia loh, bagaimana dong ndre?  Kamu harus bisa lebih dari dia dong?”. Akupun dengan entengnya berkata “aku akan kuliah di luar negeri demi dia” kami semua tertawa, kami tau itu semua hanya candaan semata, kuliah keluar negeri hanyalah mimpi yang mustahil.

Beasiswa di RussiaSetelah candaan itu dilontarkan hari-hariku di SMA terasa lebih lambat daripada biasanya, karena aku mulai berfikir serius untuk kemana dan apa yang akan kulakukan saat ini. Di saat itulah aku bertemu dengan kak Amika, beliau saat itu sedang mengajar kelas tambahan bahasa inggris untuk beberapa orang temanku. Karena tertarik aku jadi ikut mendengar kelas tambahan yang beliau berikan, saat itu beliau berkata bahwa target yang mereka harus capai adalah kuliah di luar negeri, aku menjadi sangat bersemangat saat itu. Setelah selesai, aku berbicara pribadi kepada beliau bahwa apakah mungkin orang sepertiku mampu untuk kuliah keluar negeri? Dan beliau menjawab tentu saja, beliau berkata “jika punya mimpi jangan hanya dimimpikan saja, bangun dan berusahalah untuk mewujudkannya”. Maka dari saat itu bermodal dengan tekat yang kuat, aku berusaha untuk mendaftar beasiswa ke luar negeri, karena tentu saja satu-satunya jalan aku kuliah keluar negeri adalah dengan beasiswa.

“Rezeki,Ajal dan Jodoh sudah ada yang mengatur”

SMAN Titian Teras merupakan SMA yang menggunakan sistem asrama dan semi militer, karena itu kami hanya bisa keluar dari asrama dua kali dalam sebulan. Dan jarak asrama kami dengan kota Jambi sekitar 30 menit. Semua keperluan untuk mendaftar beasiswa hanya ada di kota Jambi, mau tidak mau aku harus sering keluar-masuk asrama. Saat itu aku bersama dengan temanku  Efen, kami berdua sedang gencar-gencarnya mencari beasiswa ke luar negeri, target pertama kami adalah Singapura yang menawarkan beasiswa di tiga universitas top mereka (NTU,SMU dan NUS) segala persyaratan administrasi sudah kupersiapkan dengan matang sekarang hanyalah masalah pengiriman.

Beasiswa di Russia1Aku dan Efen pergi menghadap wakil kepala sekolah urusan Asrama dan Kesiswaan untuk meminta ijin keluar dari asrama hari itu juga, untungnya karena alasan kami untuk pendidikan, kami diijinkan untuk keluar dari asrama. Kami berangkat ke kota Jambi langsung menuju kantor pos. Setelah semua sudah dikirimkan sekarang tugas kami hanyalah menunggu. 15 hari kemudian kami mendapatkan pemberitahuan, aku lulus dan terpanggil untuk mengikuti tes selanjutnya di Jakarta, aku menelfon kedua orangtuaku dan mengatakan bahwa aku harus ke jakarta dalam waktu 1 minggu lagi, ayahku meyakinkanku bahwa tiket pesawat akan siap dalam waktu lima hari sedangkan aku diminta untuk tetap belajar dan mempersiapkan diri untuk tes tersebut. Seminggu kemudian aku sudah duduk di ruang tes di Kedutaan Besar Singapura,aku mengerjakan semua soal dengan semampuku.

Beasiswa di Russia21 bulan kemudian aku mendapat pemberitahuan bahwa, aku ternyata gagal dalam tes tersebut. Walaupun aku sudah tau bahwa kemungkinanku diterima sedikit, tapi tetap saja ada kekecewaan yang hinggap dalam diriku. Tapi saat itu di sesi telfonan bersama orangtua ku, ayahku berkata “tenang saja Rezeki,Ajal dan jodoh sudah ada yang mengatur, gagal disini bukan berarti selesai kan?” mendengar beliau berkata seperti itu aku menjadi kembali bersemangat dan meneruskan perjuangaanku untuk mencari beasiswa keluar negeri.

“Mama tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja”

Hari itu aku ingat sekali, hari pengumuman SNMPTN atau biasa disebut “undangan” seleksi nasional. Masih ada waktu sekitar 30 menit sampai jam 5 sore, aku duduk di meja belajarku di rumah sambil menatap layar laptop didepanku. Saat itu aku sudah hampir menyerah, aku telah gagal berkali-kali di setiap tes beasiswa yang aku daftarkan, diantara tes tersebut ada yang langsung menggagalkan berkas-berkasku bahkan ada yang berkata bahwa mereka akan menghubungiku jika memang aku diterima tapi sampai sekarang tidak ada yang menghubungiku. Dan puncaknya hari itu aku bersama ibuku melihat bahwa aku gagal di SNMPTN, dan anehnya ibuku yang menjadi sangat cemas sedangkan aku biasa saja mungkin karena terlalu sering melihat tulisan “maaf” di layar laptop. Malam itu rapat keluarga diadakan, ibuku berkata bahwa si A sudah diterima disini si B sudah diterima disana sedangkan aku belum ada kepastian dimana dan apa yang akan aku lakukan kedepannya, ayahku juga terlihat sedikit cemas memikirkan nasib anak sulungnya.

Beasiswa di Russia3Aku hanya bisa mendengarkan nasehat-nasehat yang beliau sampaikan, setelah itu aku hanya berkata “mama tidak usah khawatir, semua akan baik-baik saja, andre ke kamar dulu mau istirahat”. Aku langsung menuju kamarku  dan berfikir, salah satu cara yang aku lakukan adalah mendaftar ke universitas swasta dan menunggu tes SBMPTN.

“Hasil tidak akan mengkhianati usaha kita”

Saat itu aku telah diterima di salah satu universitas swasta di Indonesia dan aku diwajibkan untuk membayar uang pembangunan secepatnya, sedangkan saat itu pihak Pusat Kebudayaan dan Pendidikan Russia di Indonesia (PKR) telah menghubungiku bahwa aku telah lulus tes tahap terakhir dan hanya perlu menunggu universitas mana yang akan aku tempati. Disaat itulah kebingungan melanda karena beredar rumor bahwa ada beberapa orang yang ditolak oleh universitas di Russia, jadi aku masih memiliki kemungkinan gagal di beasiswa Russia ini. Apakah aku harus membayar ke universitas swasta tersebut atau aku harus tetap menunggu beasiswa Russia dan melepaskan kesempatan masuk ke universitas swasta ini. Tapi 2 hari kemudian, aku menerima e-mail dari PKR bahwa aku diterima di FEFU, Vladivostok, Russia. Aku langsung berlari menemui orangtuaku yang sedang istirahat dan memberikan kabar gembira tersebut, saat itu juga kami sekeluarga  langsung sujud syukur kepada Allah swt.

Dan saat aku menulis ini, aku menghubungi kedua orangtuaku untuk kembali mengingat perjuangan yang harus dilakukan untuk kuliah di Russia ini, baru saat ini aku tau bahwa ternyata ketika aku menunggu jawaban yang tidak pasti dari PKR, kedua orangtuaku dengan bantuan adikku mengirim hampir puluhan e-mail ke PKR dan menelfon hampir setiap hari bertanya tentang kejelasan akan diriku. Semua itu adalah usaha dan support yang keluargaku berikan kepadaku. Dan saat sesi telfonanku kali ini, mereka berkata “Hasil tidak akan mengkhianati usaha kita, maka dari itu jangan pernah menyerah.”

Vladivostok,Russia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here