MENIKAH - Begelung dan Si Upik, dia anak SAD menikah dengan pakaian adat minang di pemukiman mereka Desa Aur Berduri Kecamatan Nalo Tantan, Rabu (13/9)

KABARJAMBI.NET – Suku Anak Dalam (SAD) semakin membaur dengan masyarakat. Interaksi antara SAD dengan warga masyarakat sekitar juga semakin baik. Namun soal pernikahan SAD, masih banyak yang penasaran.

Rabu (13/9), dua anak SAD menikah. Pengantin pria bernama Begelung. Ia mempersunting sang kekasih, Si Upik. Pernikahan dua remaja SAD dari kelompok Temenggung Pak Jang ini digelar di pemukiman mereka, bilangan Desa Aur Berduri Kecamatan Nalo Tantan.

Prosesi pernikahan Bagelung dan Si Upik disambut sangat antusias oleh warga SAD serta warga sekitar. Mempelai didandani dengan pakaian adat khas Minang yang dominan warga merah dengan kombinasi warna emas. Baik pada pakaian maupun penutup kepala keduanya.

Ratusan orang warga dari desa sekitar ikut bergabung dengan mereka di lokasi pernikahan. Yakni di tengah perkebunan kelapa sawit milik warga setempat. Sederhana, namun cukup khidmad dan berkesan.

Pantauan kabarjambi.net, sebuah balai-balai dari kayu dibuat setinggi lutut orang dewasa. Ini menjadi pelaminan bagi Bagelung dan Si Upik di hari paling berbahagia ini. Balai-balai ini ditutup dengan tikar plastik bermotif boneka.

Laiknya raja sehari, keduanya tentu tak boleh diterpa langsung oleh sinar matahari hingga kepanasan. Agar lebih nyaman, balai-balai ini lalu ditutup dengan terpal warna kuning sebagai atapnya.

Kedua pengantin bersama Dinas Sosial Kabupaten Merangin

Kasi Komunitas Adat Terpencil (KAT) Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Merangin, Azrul Efendi, mengatakan warga desa sekitar memang diundang. “Ini pertama kalinya warga desa sekitar diundang. Menyaksikan prosesi pernikahan warga SAD,” ujar Azrul.

Ternyata, proses pernikahan dilakukan sejak pagi-pagi buta. Pasalnya, sesuai kepercayaan dan adat SAD, akad nikah dilakukan sebelum matahari muncul dari ufuk Timur.

Menariknya, tidak hanya warga sekitar saja yang hadir. Cukup banyak warga SAD dari kelompok lain yang juga turut hadir. Karena menurut Azrul, warga SAD dari kelompok lain memang sengaja diundang.

Lalu mengapa harus menggunakan adat minang? “Mereka memilih pakaian adat Minang karena mengaku keturunan Minang,” ujar Azrul lagi.(May)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here