KABARJAMBI.NET, Jakarta – Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Nikki Haley mengirimkan email ke beberapa anggota PBB yang berniat mendesakkan pemungutan suara pada Majelis Umum PBB berisi tuntutan agar AS menarik keputusannya mengakui Yerusalem ibu kota Israel.

“Begitu Anda memberikan suara Anda, saya ingin Anda tahu bahwa Presiden dan AS akan menganggap pribadi suara Anda ini,” tulis Haley dalam email yang juga diperlihatkan kepada majalah online Foreign Policy.

“Presiden (AS) akan menyaksikan suara ini dengan cermat dan meminta saya melaporkan balik negara-negara yang memberikan suara untuk menentang kami. Kami akan mencatat setiap dan masing-masing suara menyangkut masalah ini,” sambung dia.

Haley menyatakan AS tidak meminta negara-negara lain mengikuti langkahnya dan memindahkan kedutaan besar mereka ke Yerusalem, “meskipun kami kira itu pantas dilakukan.”

Para diplomat menilai ancaman Haley itu akan dianggap sepi oleh negara-negara yang memberikan suara “ya” pada Majelis Umum PBB nanti karena mayoritas anggota PBB, temasuk sekutu-sekutu setia AS seperti Inggris dan Prancis, kemungkinan besar akan memberikan suara “ya”.

Surat Haley ini disebarkan sehari setelah AS memveto rancangan resolui Dewan Keamanan PBB yang disusun Mesir yang menyatakan negara mana pun termasuk AS yang mengakui Yerusalem ibu kota Israel “tak punya hukum apa-apa.”  “Keputusan itu gugur dan hampa serta harus dibatalkan,” begitu bunyi rancangan resolusi usulan Mesir itu.

Rancangan resolusi ini sendiri didukung penuh oleh 14 negara dari total 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB. Ini membuat para diplomat AS seperti terasing dari arus besar dunia.

AS sendiri menganggap keputusannya mengakui Yerusalem ibu kota Israel sebagai masalah kedaulatan negaranya di mana legislatif AS sudah sejak puluhan tahun lalu memandatkan untuk memindahkan kedutaan besar AS di Israel ke Yerusalem dari Tel Aviv.

Selasa kemarin Haley mencuit, “Di PBB kami selalu diminta untuk berbuat lebih.  Oleh karena itu, ketika kami membuat keputusan, berdasarkan amanat rakyat Amerika mengenai di mana letak kedutaan besar kami, kami tak ingin mereka yang sudah kami bantu itu menentang kami. Kamis nanti mungkin ada pemungutan suara yang mengkritik pilihan kami. AS akan mencatat nama-nama (negara yang menentang keputusan pengakuan Yerusalam ibu kota Israel) itu.”

Dalam surat kepada negara-negara anggota PBB itu, Haley menegaskan bahwa 22 tahun lalu Kongres AS sudah menyatakan “Yerusalem harus diakui sebagai ibu kota Israel, dan bahwa kedutaan besar AS harus berlokasi di Yerusalem. Presiden Trump menegaskan deklarasi itu dengan resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.”

Keputusan presiden, kata dia, “sama sekali tidak menghakimi negosiasi status final (Yerusalem), termasuk perbatasan-perbatasan spesifik kedaulatan Israel di Yerusalem.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here