KabarJambi.net – Beberapa hari sebelum kasus hilangnya dokumen TPF Munir menjadi polemik antara pemerintah dan kubu Susilo Bambang Yudhoyono, mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM. Hendropriyono membuat sejumlah pengakuan soal pembunuhan Munir Said Thalib dalam wawancara dengan TV One, di acara “Kabar Tokoh”, 12 Oktober 2016.

Dalam wawancara tersebut, Hendro mengaku tidak terlibat dalam pembunuhan Munir. Dia menyatakan, tuduhan terhadap dirinya tidak benar dan hanya isapan jempol.

“Yang saya prihatin sebelum saya mati adalah, saya ingin keluarganya ngerti, bahwa kalau Munir sampai dibunuh, yang membunuh bukan saya. Yang merintah juga bukan saya.”

Hendro sebaliknya bertanya, mengapa dirinya yang harus bertanggungjawab atas kematian Munir. “Terus terang secara pribadi, saya sangat sedih dan ingin sekali saya membantu, mendekat kepada keluarga Munir, karena saya simpati.”

Menurut Hendro, dia simpati karena sewaktu menjabat kepala BIN dan Munir belum mati, dia pernah minta agar Munir berbicara di BIN untuk mencari titik temu definisi HAM. “Yang diperjuangkan almarhum dengan pengertian HAM yang ada di pemerintahan waktu itu beda. Coba dipertemukan. Hanya dengan bertemu, kita tidak akan ada konflik. Ini (Munir) kan bangsa kita sendiri. Bukan orang Belanda, musuh.”

Dia menyatakan pernah bertemu dengan Munir dalam sebuah wawancara di radio. “Terus terang saya suka cara dia (Munir) bicara.”

Dalam wawancara itu, Hendro juga mengaku tidak mengenal Pollycarpus. Kata Hendro, semua orang bisa mengaku sebagai orang BIN. “Saya baca di koran, saya kira dia orang Ambon.”

Tentang Muchdi, Hendro menganggapnya sebagai seorang intelijen yang piawai dengan moral yang baik dan saleh. “Saya kok tidak percaya kalau dia (Muchdi) berbuat begitu bodoh, begitu jahat (membunuh Munir). Tidak mungkin.”

Ditanya soal percakapan awal dirinya sebagai kepala BIN untuk menghabisi Munir, Hendrooriyono menganggap tuduhan itu sebagai sesuatu yang tidak mungkin. “Saya berdroa, mudah-mudahan yang ngomong itu mendapat laknat Allah. Karena itu fitnah. Fitnah luar biasa.”

Kasus pembunuhan Munir telah berlalu sekitar 12 tahun. Dia tewas dalam pesawat Garuda GA-974 jurusan Jakarta-Asmterdam di deretan kursi 40G, 7 September 2004. Kasus ini memaksa pemerintah Presiden SBY membentuk TPF Munir dan telah memeriksa sejumlah orang dan pejabat BIN yang diduga terlibat.

Beberapa di antaranya kemudian dihadapkan ke pengadilan. Antara lain pilot Garuda, Pollycarpus, dan (eks) Deputi V BIN Muchdi Purwopranjono.

Pollycarpus divonis 20 tahun penjara oleh Mahkamah Agung. Vonisnya kemudian menjadi 14 tahun penjara menyusul putusan PK Mahkamah Agung, 20 Desember 2005. Dengan putusan itu, Pollycarpus keluar dari penjara pada akhir November 2014. Selepas dari LP Sukamiskin, Pollycapurs saat itu mengaku kepada wartawan bukan sebagai pembunuh Munir.

Begitu juga dengan Muchdi. Setelah menjalani proses persidangan selama kurang-lebih tiga tahun, dinyatakan tidak bersalah dan divonis bebas oleh majelis hakim PN Jakarta Selatan. Dalam putusan vonis 13 Desember 2008, majelis hakim menyatakan, Muchdi tak terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir. Hakim juga menilai Muchdi tak memiliki motif untuk membunuh Munir.

 

Sumber : http://www.terberita.com/2016/10/pengakuan-hendropriyono-munir-dibunuh.html#ixzz4ONzv2T51

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY