KabarJambi.net – Saya telah menghabiskan masa muda saya selama 5,5 tahun dalam lingkungan pendidikan kedokteran. Memang sih, tidak menyeramkan seperti membayangkan pendidikan militer pada umumnya. Namun, 5,5 tahun tersebut sungguh menguras waktu, emosi, dan energi saya. Ada rasa iri saat melihat teman-teman sayasemasa SMA sedang ngumpul reunian ketika mereka sedang libur semester. Sedangkan saya, masih berkutat dengan jadwal Skill lab, tutorial, bahkan ujian blok saat itu. 3,5 tahun menjadi mahasiswa kedokteran preklinik, kami jarang mengenal istilah “libur semester” bahkan saya ingat sekali 1 minggu sebelum lebaran kami baru dapat libur namun 1 minggu setelah lebaran kami wajib masuk kuliah kembali karena ada jadwal ujian blok.

Masa-masa awal kuliah, kami pun rajin tiap sore sampai malam hari menghabiskan waktu untuk belajar anatomi manusia diruang cadaver, ruang penyimpanan jenazah untuk pembelajaran mahasiswa FK.Ngeri. Lebih mengerikan jika kami dinyatakan tidak lulus ujian anatomi daripada melihat jenazah. Seiring berjalannya waktu, anak FK sudah sangat bersahabat dengan para guru besar kami (cadaver) dan bau formalin. Anyway, Ujianblok. Ujian yang dilaksanakan tiap akhir minggu ke-6 modul pembelajaran. Yes, that’s true. Kami selalu bertemu dengan ujian tiap 6 minggu sekali. Terdiri dari ujian tulis (Multiple choice question), ujian lisan (Structured oral case analysis), dan ujian keterampilan klinis (Objective structure clinical examination) dapat ditambah ujian laboratorium bila perlu. Satu ujian tidak lulus? Bye! Hidup ini penuh ujian dan rintangan.

dokterPada saat itu, saya benar-benar sadar, sistem perkuliahan FK sangatlah berbeda dengan sistem perkuliahan fakultas/jurusan lainnya. 24 jam dalam sehari, rugi banget kalau si anak FK tidak menyisihkan 8-10 jam (bahkan bisa lebih) untuk belajar. Mau belajar pake sistem kebut semalam pas mau ujian? Saya angkat tangan, bro. hafalannya banyak, materi yang harus dimengerti sangat menumpuk, belum lagi tugas-tugas praktikum, braintstorming untuk bahasan tutorial, dan lain sebagainya. Yes..inilah yang membuat perkuliahan anak kedokteran berbeda dari jurusan lainnya. Saya bukan menyudutkan jurusan lain tidak perlu belajar. Tapi, yang saya tekankan disini adalah belajar sepanjang waktu, hidup anak FK selalu dipenuhi dengan UJIAN.

Tidak berhenti pada 3,5 tahun ini saja. Masih ada fase yang lebih menyeramkan, yang wajib anak FK lalui. Fase Klinik dengan gelar barunya ‘doktermuda’ tapi lebih akrab dan nyaring dengan sebutan ‘KOAS’. Dokter muda wajib mengaplikasikan ilmu teori yang dia dapet selama 3,5 tahun kemarin menjadi ilmu keterampilan saat berhadapan dengan pasiendan keluarga pasien, namun tetap dalam bimbingan dokter spesialis. Perjalanan 1,5 tahun ini wajib dipenuhi dengan BELAJAR, bukan hanya belajar keterampilan klinis saja tapi juga belajar bagaimana cara berkomunikasi yang tepat kepada pasien dan keluarga pasien. Tidak jarang koas disembur pasien atau keluarga pasien karena tidak tepat dalam berkomunikasi, dan itu sangat menjadi pembelajaran bagi sikoas untuk tepat berbicara pada situasi yang tepat pula. Hal yang mengkhawatirkan bagi para koas adalah morning report dimana koas akan menjelaskan perjalanan pasien rawat inap yang menjadi tanggungjawabnya. 14 stase wajib dijalani dengan lancar selama 1,5 tahun tersebut. Kalau tidak lancar, maka sikoas berhak mengulang stase yang masih mengecewakan nilainya, sehingga perjalanan koasnya akan lebih panjang dari 1,5 tahun tersebut. Kenapa bisa tidak lancar? Ujian para koas saya anggap lebih mencekam ketimbang ujian saat preklinik dulu. Saat ujian, koas akan langsung berinteraksi dengan pasien, mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, menganjurkan pemeriksaan penunjang yang tepat pada pasien serta memikirkan tata laksana yang tepat pada pasien tersebut. Ujian klinis ini akan langsung dilihat oleh para dokter spesialis, bisa dibayangkan sang koas wajib menguasai komunikasi dan wajib sangat profesional saat berada didepan pasien, namun disaat yang sama tampak sangat gugup karena langsung dinilai oleh pengujinya, dokter spesialis. Kalau tidak lancar? Si koas tersebut wajib mengulang ujian atau mengulang stase dilain kesempatan.

Setelah selesai 1,5 tahun fase klinik di RS pendidikan dan puskesmas, si Koas wajib belajar kembali mengulang keseluruhan materi selama 5,5 tahun silam untuk menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD), setelah lulus ujian ini maka sicalon dokter sah disebut Dokter. Ujian yang sering sekali menghabiskan waktu sicalon dokter yang kesehariannya hanya berkutat dengan tumpukan soal-soal ujian. Jargon sicalon dokter buat lulus ujian adalah “ONESHOT!” karena bisa dipastikan tumpukan rasa kesal, stress tingkat tinggi akan mampir dikehidupan sicalon dokter kalautidak lulus UKMPPD.

Setelah jadi dokter apakah saya bebas tanpa perlu belajar?

Salah besar. Seorang dokter wajib terus meng-update ilmunya. Karena ilmu kedokteran akan terus berkembang mengikuti perkembangan jaman. Sering-sering ikut seminar, workshop ataupun lanjut sekolah magister atau program spesialis untuk meng-update skill kita sebagai dokter agar tidak kalah saing dengan dokter lainnya. Apalagi di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini, mau tidak mau, suka tidak suka, dokter asing dapat dilegalkan masuk ke Indonesia untuk bekerja, pun begitu dengan dokter Indonesia yang dapat bekerja diluar Indonesia.

Siapkah kita menjadi seorang dokter? Siapkah kita menjadi A Long Life Learner dari sekarang?(HerninaOktaviani, seorang yang terus berusaha menjadi a long life learner)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here